Minggu, 21 April 2019

Pasrah Itu Indah

Pasrah itu indah. 


Saat diri betul – betul menundukkan diri pada kehendak dan ketetapanNya. Ketika ikhtiar sudah mencapai titik puncak daya sebagai manusia dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Indah, karena tak perlu lagi memikirkan harus apa dan bagaimana. Tinggal menunggu saja apa yang diputuskan oleh Dia, Hakim Yang Seadil – adilnya. 


Pasrah itu indah. 


Karena saat itu, kita betul – betul merasakan rangkulan Allah yang penuh cinta. Seolah Ia berkata, “ Hamba-Ku, tundukkan dirimu pada-Ku. Lepaskan semua angan panjangmu, percayalah, Aku takkan mengecewakanmu. Percayalah, Aku mencintaimu. Takkan pernah Aku memberikan yang tidak baik bagimu. Percayalah … “ 


Pasrah itu indah. 


Karena saat itu, kita berkata, 


“ Allah – ku, ini aku, hamba-Mu. Hamba yang selalu khilaf mendahului-Mu. Merasa bisa melakukan yang ku mau, padahal itu karena kebaikan-Mu yang membuatku bisa. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Aku yang mampu karena Engkau membantu mengangkat bebanku, yang kuat karena Engkau yang Maha Kuat telah menguatkan aku. 


Allah – ku, ini aku, hamba-Mu. Yang dengan malu datang pada-Mu, setelah segala dosa yang kulakukan. Tapi jika bukan pada – Mu, pada siapa lagi aku menyerahkan diriku? Ampuni khilaf dan egoku, Rabb. Aku malu. Sangat malu. Tapi tentu akan lebih malu lagi jika aku baru menyebut nama – Mu saat malaikatmu datang menjemputku.


Allah – ku, ini aku, hamba-Mu. Aku merasa sudah melakukan segalanya untuk mengejar inginku. Namun semuanya belum sesuai dengan keinginanku yang menggebu. Saat kekecewaanku makin dalam, aku baru menyadari, bahwa Engkau sedang mengingatkanku pada satu hal yang sebenarnya belum aku lakukan. Bertawakkal. Aku lupa, bagaimanapun aku berusaha, kuasa – Mu tetap penentu. Bantu aku untuk bersyukur karena semua upayaku gagal, karena sebenarnya Engkau sudah menyiapkan yang lebih baik dari itu, bukan? Dan karena itulah, tidak ada alasan bagiku untuk bersedih atas apa yang tidak sesuai harapanku. 


Allah – ku, ini aku, hamba – Mu. Aku baru menyadari, ketika tidak ada orang yang mendengarkan keluhanku, sesungguhnya itu karena Engkau ingin aku hanya bercerita pada – Mu, bukan? Ketika tidak ada orang yang menolongku, sesungguhnya itu karena Engkau ingin menjadi satu – satunya penolong bagiku, bukan? Maafkan aku yang terlambat menyadari bahwa kuasa – Mu padaku adalah mutlak. Aku tanpa – Mu tidak akan pernah menjadi apa – apa. Terlahirpun tidak akan pernah. 


Allah – ku, ini aku, hamba – Mu. Aku sudah berikhtiar untuk hajatku. Kini kupasrahkan hasilnya pada kuasa – Mu. Aku hamba – Mu. Diriku sepenuhnya milik - Mu. Didik aku dengan cara – Mu, agar ketika saatnya tiba, aku bisa menatap – Mu dan Rasul - Mu dengan penuh cinta. Agar Rasulullah SAW bisa bangga menyebutku sebagai umatnya di hadapan – Mu dan semua makhluk – Mu di Mahsyar kelak. 

Aamiin ... "


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dear Myself, I forgive you :)