Sabtu, 24 November 2018

Makaffah Salon

Assalamualaikum.

Selamat sore.

Yang sudah kenal saya dari dulu mungkin akan kaget dengan postingan saya kali ini. Ajaib banget kali ya, saya ke salon. Biasanya bodo bodo amat sama penampilan.

Tapi sekarang udah jadi istri orang. Udah ga boleh cuek sama penampilan. Meskipun suami nerima - nerima aja dan ga protes, tetep harus menjaga nama baik beliau karena sejak awal nikah sudah banjir bully dan body - shaming dari temen - temen kerja beliau. Laki - laki pun tetep ya mulutnya mah ajaib. Hehe. 

Itu memang terjadi. Banyak yang menyayangkan beliau menikah dengan saya yang fisiknya begini. Nggak montok, katanya. Tapi suami selalu senyum dan malah bersyukur. Lebih baik fisik istrinya dibilang nggak menarik daripada jadi bahan khayalan laki - laki lain. Ah, kujatuh cinta padamu!

Kemudian kesadaran itu muncul...

Selasa, 13 November 2018

Ibu Rumah Tangga Noob

Assalamualaikum.

Selamat sore.

Apa banget deh nih judul. 

Tahun 2018 udah mau abis lagi aja, nih. Pencapaian target - targetnya udah sampai mana? 

Alhamdulillah, Allah ga pernah sedetikpun berjeda dalam ngasih rahmat dan nikmat yang luar biasa dalam menjalani hidup. Ada kesulitan, dibantu. Kita butuh apa, dikasih. Walaupun doa nggak dengan penuh keyakinan hati, walaupun hanya ucapan ringan aja nih, dikabulkan. Ga pernah nemu alasan buat ga bersyukur. 

Sudah sebulan berlalu dari hari ulangtahun pernikahan kami yang pertama. Baru setahun. Masih jauh banget perjalanannya. Semoga, ya. Sehidup sesurga. Aamiin...

Setahun yang luar biasa ini diisi dengan begitu banyak kebahagiaan, nikmat, hadiah, kejutan, juga kelapangan. Ujian, ada. Tentu. Kalau nggak diuji, justru itu tanda tanya besar. Allah masih sayang sama kita atau nggak, begitu bukan? 

Saya selalu ketakutan ketika menerima banyak nikmat. Selain syukur yang terucap, saya juga takut jangan - jangan itu bentuk istidraj Allah sama saya. Buru - buru deh fikirannya dijernihkan lagi, dibawa berbaik sangka lagi ke Allah, bahwa Allah memang sangat menyayangi saya. Kita. Kamu. Dia. Semuanya.

Jumat, 07 September 2018

Bakso Mantep Gunung Giri

Assalamualaikum. 

Subuh - subuh gak bisa tiduuuuurrrr >_<

Sejak pindah rumah udah mending banget, sih. Ini efek kopi jadi melek. 

Yaudah, cerita makanan aja, ya. Review Bakso. 

Akhir bulan lalu, saya dan suami nyamperin adik dan mama saya di Taman Balai Kota Bandung. Terus bingung mau ke mana lagi setelahnya.  Adik saya lihat - lihat di aplikasi HPnya, tempat makan mana yang bisa dikunjungi. " Kak, lihat. Bakso Gunung Giri. Kata anak - anak Fitness sih enak. " tapi saya nggak begitu nanggapi. Cuma " Oh " aja.

Karena bingung, ya udah ambil motor dulu di parkiran. Adik saya parkir deket situ sedangkan suami markir di parkiran masjid Al - Ukhuwah. Kami ketemu di pintu parkiran. Masih bahas mau ke mana, karena mama, adik, dan suami pada bilang terserah saya. Bingung kan >_<

Saya memutuskan, ya udah, jalan aja dulu. Eh, ternyata, 50 meter dari pintu parkiran, di sebelah kiri ada Bakso Gunung Giri yang sebelumnya dibahas dede. Deket ternyata -_-

Surat Untuk Anakku

Anakku sayang,

Ummi menuliskan ini untukmu, saat kau masih ada disisi Allah. Ummi tak tahu kapan tubuh rapuhmu Ummi jaga baik – baik dalam rahim Ummi yang kokoh ini? Saat ini, bahkan Ummi belum tahu siapakah pria hebat yang menanamkan benihmu dalam rahim tempat tinggalmu kelak dalam rahim Ummi. 

Anakku sayang, 

Tahukah kamu, meski kau belum tercipta, meski kau belum bersama kami, Ummi sudah lebih dahulu mencintaimu. Cinta yang sempurna dari makhluk Maha tak sempurna yang kelak kau sebut Ummi. 

Anakku sayang, 

Meski demikian, maafkan Ummi yang tak menjaga tempat tinggalmu sebelum kau datang. Ummi tak menjaga kekuatan dan kekokohannya. Ummi tak menjaga makanan apa saja yang masuk dan mungkin tak menjaga kebersihannya. Maafkan Ummi nak, Ummi akan berusaha membenahi diri untuk menyambutmu suatu hari nanti. 

Pengalaman 2 x 2 Garis

Assalamualaikum.

Selamat sore. 

Menjelang adzan Maghrib, nih. Sembari menunggu suami pulang, saya mau berbagi pengalaman yang bagi saya sangat campur aduk rasanya. 

Pernikahan kami belum genap setahun. Sejak usia pernikahan 2 bulan, sebenarnya saya sudah sering banget menerima kalimat - kalimat yang membuat mood turun drastis. Pertanyaan klasik sepanjang sejarah umat manusia, terutama di Indonesia. Nggak tau sih apa di luar negeri 'umum' juga ditanya - tanya masalah seperti ini. 

Pertanyaan itu adalah, " Sudah hamil belum? " 

Nggak cuma satu pertanyaan itu (dan sejenisnya) saja, ternyata. Melainkan ada juga embel - embel selanjutnya. Misalnya, " Masa sih belum hamil juga? Dia nikahnya belakangan tapi sudah positif sekian minggu ", dan sejenisnya.

Cung, siapa yang sering ditanya hal seperti ini juga? 

Kamis, 30 Agustus 2018

Pindahan

Assalamualaikum. 

Selamat pagi.

Wah, udah lama nggak posting, nih. lagi riweuh banget. Riweuh ga jelas mau ngapain -,-

Jadi ya... Kalo ada yang nanya kabar saya gimana, alhamdulillah masih gini aja. Masih berusaha mengatasi insomnia. Ga ada yang berubah kecuali kadar kebahagiaan dan rasa syukur yang semakin bertambah. Aamiin... Alhamdulillah... Insya Allah...

Saya mau cerita sedikit nih, soal satu langkah (cukup) berani bagi saya dan suami. Nggak disangka banget bisa sampai di titik ini sebelum target. 

Begitulah Allah. Selalu Super baik, Maha Pengasih dan Pemurah walaupun kita sering lupa. Sering nggak mengikuti perintahNya, sering mendikte dan mendahului kehendak dan ridhaNya di atas apapun. 

Astaghfirullah... 

Kamis, 21 Juni 2018

Sakit

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Walaupun Ramadhan sudah berlalu, semoga semangatnya tetap tertanam ya, temen - temen. Gimana dengan Shaum Qadha dan Syawal - nya? Ada yang sudah mulai? 

Malam ini, saya mau cerita soal sesuatu yang terjadi hari Minggu (19 Juni 2018) lalu. Tentang sesuatu yang luput dari kontemplasi saya, hingga kemudian ujian tersebut diulang lagi dan lagi sama Allah.

Ujiannya ada di judul tulisan ini. 

Sakit.

Apanya yang sakit? 

Minggu, 03 Juni 2018

Obat Jiwa dan Ramadhan Pertama Kami

Assalamualaikum.

Selamat dini hari. 

Ngga kerasa, ternyata terakhir nulis tuh bulan Maret, yah. Kirain baru sebulan doang nggak posting di sini. Suami menyarankan saya untuk fokus memposting perjalanan kami saja dan tidak yang lainnya, terutama curhat. Ibaratnya travel blogger lah. Sebagai cerminan diri kami berdua yang tukang maen :p 

Di draft ada beberapa artikel yang nggak selesai. Belum dibereskan. Saya ngerasa masih harus belajar sangat banyak untuk cerita perjalanan, objek wisata, dll. Belajar dulu. Doakan, ya. 

Selain blog ini, saya juga punya akun tumblr. Sayangnya sekarang sudah di blokir dan harus pake VPN katanya. Jadinya saya nggak punya ruang untuk sharing hal - hal yang ringan kayak gini. Sekedar ngobrol saja. Sekedar ngajak ngalor ngidul. 

Tahukah kamu gimana rasanya nggak nulis dalam waktu lama? 

Writer block dan cranky terus !!!

Sabtu, 17 Maret 2018

Trip Ke Gunung Padang Cianjur (1)

Assalamualaikum. 

Selamat siang. 

Hari terik banget ini. Katanya karena efek fenomena alam Cincin Matahari tanggal 13 Maret 2018. Ada juga yang bilang tanggal 31 Maret 2018. Nggak banyak sih yang saya baca soal ini. Tapi memang menyengat banget. Saya bersyukur tinggal di dataran tinggi yang walaupun masih tetap panas, tapi nggak separah kalo di dataran rendah. Bisa pecah nanti Adek, Bang. Nggak dilapis Pyrex >_<

Semalem keingetan masih nyimpen beberapa foto saat jalan - jalan ke Situs Gunung Padang Cianjur tanggal 02 Desember 2016 lalu. Yah, udah lebih dari setahun, memang. Tapi semoga bisa sedikit membantu, ya. Itu kunjungan ketiga saya, setelah kira - kira 25 Desember 2015 dan pertengahan tahun 2016 (yang ini nggak yakin kapan, sih. Lupa.) ke sana bersama teman - teman Napak Tilas Community. Berkesan banget sih, kalo menurut saya. Soalnya seru.

Sayangnya, foto - foto kami udah nggak ada di HP dan hard disk. Soalnya laptop dan  HP lama rusak. Ngga selamat data - datanya T_T

Yang bersisa dari dua trip pertama cuma tiga, sih. NIh fotonya...

Pendakian Pertama : Papandayan (4)

Assalamualaikum.

Selamat sore. 

Mauuuu ngelanjutin cerita Papandayan (3).

Panjang, yak? Haha. Ini part terakhir. Insya Allah. 

Malam yang seram dan dingin sudah berlalu. Subuh tiba. Saat keluar dari tenda, rasanya damai banget. Beda dengan semalam. Dengan bantuan head lamp, kami mendapati plastik sampah kami sudah terkoyak dan terburai. Duh...

Alhamdulillah, penjagaan Allah memang luar biasa. Kami ke kamar mandi untuk berwudhu. Bahkan jam 04.00 ke toilet saja sudah antri, tuh. Malah ada suara mandi di balik salah satu bilik. Uyuhan ~_~

Pendakian Pertama : Papandayan (3)

Assalamualaikum.

Selamat sore. 

Jadi, kali ini mau melanjutkan cerita di Papandayan (2)

Memang benar yang orang bilang. Ujian banget itu ketika hari mulai gelap. Saat itu, saya yang newbie bener - bener menggantungkan diri ke Allah dan suami. 

Ketakutan sepanjang malam dan benar - benar merindukan matahari terbit. Pengalaman pertama yang nggak saya bayangkan sama sekali saat di Cijanggel. Di sana tidur pakai bivak aja. Nggak pakai jaket. Kepala terbuka gitu aja. Awalnya mau rebahan gitu aja di atas rumput, dong ~_~ Nggak kebayang ada hewan di situ. Ular, mungkin. Atau yang paling mungkin, anjing liar. Bisa aja, kan? 

Para santri yang mengikuti program Santri Siap Guna diwajibkan menjalani Solo Bivak di ujung program. Tujuannya, katanya untuk menguji keyakinan kita sama Allah. Biar manteng keyakinan kita sama Allah. 

Dan itu benar adanya.

Pendakian Pertama : Papandayan (2)

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Dago terik. Padahal beberapa menit yang lalu hujan turun. Cuaca belum menentu. Jaga kesehatan yaa, temen - temen!

Kali ini saya mau melanjutkan cerita Papandayan (1).

Jadi, setelah kami mulai mendaki, saya masih kuat kok naiknya. Setidaknya sampai 10 - 15 anak tangga pertama. Asli, payah banget nih fisik. Ngos ngosan. Beda sama suami yang kelihatan anteng aja naiknya. Beberapa kali suami menawarkan buat bawain tas, istirahat dulu, minum dulu, dan lainnya. Beda banget deh naik sama suami tuh. Ayok naik gunung dengan yang halal :p

Cuaca lagi cukup panas. Lumayan panas lah. Terbayang - bayang nasi padang yang kami beli sebelum memasuki wilayah Papandayan. Rencananya itu buat makan nanti malam :D
Yang saya sesalkan, banyak bekas - bekas vandalisme. Ameh naon atuh, ameh naon? :(

Jumat, 16 Maret 2018

Pendakian Pertama : Papandayan (1)

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Sebenernya ini adalah cerita bulan Desember 2017, saat kami memutuskan bulan madu setelah drama pengantin - baru - dikecoh - tespek. Tespek saya hasilnya dua garis dengan samar di salah satunya. Baperlah, saya hamil. Rencana semula untuk berbulan madu batal. Karena memang suami sangat bersemangat untuk segera punya anak. 

Tapi ternyata nggak lama setelah kalimat " Ya Allah, saya nggak siap. " saya ucapkan dalam doa, saya haid. Memang rasanya belum siap ketika di bulan kedua pernikahan, saya sudah hamil. Mengenal suami saja belum banyak, karena kami memang cuma dekat 5 bulan saja sampai akad nikah teh. Untuk menghibur, suami akhirnya mengajak saya berbulan madu sesuai rencana awal kami. 

Saat itu cuaca lagi nggak menentu. Lagi musim siklon Dahlia. Saya berfikir ulang apa akan baik - baik saja kalau jadi pergi? Tapi suami berkeras dan meyakinkan kalau semua akan baik - baik aja. Papandayan adalah gunung yang mudah didaki, katanya. Nggak berupa hutan belantara dan sudah banyak personil yang mengelola. Nggak perlu khawatir. 

Mengingat pengalaman - pengalaman beliau di dunia pendakian, saya memercayakan diri sepenuhnya saja. Kami baru mengabari (bukan meminta izin) pada orangtua saat benar - benar mau berangkat. Haha. Memang benar adanya. Sesuai dugaan, orangtua saya nggak mengizinkan. Cuaca lagi nggak bagus, kata mereka. Tapi suami sudah yakin pergi. Jumat jam 17.00 kami berangkat. Prediksi, insya Allah hari Minggu sore sudah di Bandung lagi. 

Sejujurnya, saya pun takut untuk pergi. Tapi beginilah ya namanya sudah bersuami. Patuh pada suami walaupun sebenernya pengen patuh sama Papa. Haha.

Bakso Sangga Lotus Pujakesuma

Assalamualaikum.

Selamat Pagi. 

Kali ini mau coba posting khusus tentang review makanan, ni. Soalnya suka gemas kalo nemu tempat makan yang baru dan enak makanannya. Pengen banget ngajak temen - temen ke situ tapi nggak bisa karena udah pada susah ngumpulnya. Pada sibuk. Banyak yang sekarang sudah berkeluarga atau punya anak. Nah lebih susah lagi deh ngatur waktu kumpulnya. Jadi terfikir, kenapa nggak ditulis di sini aja? Jadi temen - temen yang baca, walau nggak bisa makan bareng, bisa tetap nyicip.

Seperti yang kita tahu ya, teman - teman. Bandung itu surganya tukang makan. Wkwkw. Termasuk saya dan suami. Saya masak di rumah tapi tetap saja hasrat ingin jajan nggak bisa dibendung dengan mudah. 

Makanan yang hits sepertinya udah macem jamur di musim ujan aja. Cepet banget tumbuhnya. Di sana ada, di sini ada. Mulai dari keripik, kerupuk, ramen, nasi - nasian, mie - mie - an (~_~) aneka makanan penutup, es campur, dan es es lainnya. Banyak lah. Kenikmatan hakiki semua.

Mau yang pedes, ada. Yang manis, banyak. Asin, gurih, panas, dingin, lengkap! 

Bersyukur banget nggak sih, tinggal di Bandung? Hehe...

Ngomong begini karena belum pernah dan belum banyak tahu kuliner daerah lain, sih. Nanti kalau tahu mungkin bisa berubah lagi pendapatnya. Setiap orang punya taste sendiri. Bisa saja limpahan variasi makanan di Bandung malah dinilai aneh atau kurang suka. Kembali ke diri sendiri saja. 

Sabtu, 10 Maret 2018

Orang Yang Tepat

Assalamualaikum. 

Selamat sore. 

Alhamdulillah, akhirnya ngetik di laptop juga. Ngetik di HP emang praktis ya, tapi kurang nyaman. Akhirnya hari Jumat, nih. Rasanya nunggu banget pekan ini selesai. Pekan yang rasanya berat dan musingin. Sempat makin drama juga karena kabar gembira dari Pak Dokter Kandungan pekan lalu berubah jadi kabar duka. Efek gelisah, katanya. Disaat seminggu itu lagi dikasih penguat kandungan, saya malah nggak bisa ngontrol stress (bukan karena hormon ibu hamil, soalnya lagi ga hamil pun reaksinya mungkin akan sama juga). Jadi harus kembali bersabar menanti tanda - tanda si junior hadir. 

Hati makin patah ketika melihat suami juga jadi nggak ceria. Beliau masih tetep berusaha ngehibur saya, tapi ya, beliau mah ga bisa nyembunyiin perasaan. Sedih jelas tergambar. 

Kebayang perasaan orangtua, keluarga, dan terutama suami. Beliau pengen cepet punya anak. Orangtua kami udah excited menyambut. Ngerasa nggak berguna banget karena ngga bisa jaga kandungan. Huhu...

Ikhlas menjadi satu - satunya yang bisa dilakukan.

Sabtu, 03 Maret 2018

Menua Dan Mendewasa

Assalamualaikum. 

Selamat pagi.

Minggu pagi yang dingin dan saya merindukan anime dan film kartun yang dulu tayang dari pagi buta sampai tengah hari. Sekarang sih jam segini udah nemu infotainment ya di TV. 

Saya, akhir-akhir ini jadi sering menertawakan diri sendiri.

Ketika akhirnya (mulai sedikit) mampu memilih sesuatu berdasarkan manfaat. Bukan hasrat.

Ketika saya sadar, sebungkus Indomie nggak lagi senikmat dulu. Makanan favorit yang ngga sehat rasanya enak di lidah tapi setelah porsinya habis, bada rasanya menolak. Ujung - ujungnya mual.

Ketika baru bersemangat berolahraga ketika masa muda dihabiskan dengan keyakinan palsu, "Ah, da ga olahraga juga saya baik-baik saja." 

Ketika pengen fokus melakukan sesuatu berdasarkan nanti dapat hasil seperti apa, bukan sekedar "Ah ya udah, jalani aja dulu biar ada kegiatan".

Ketika bisa tegas bersikap tanpa musingin gimana kalau dijauhin dan cuma nangis ketika ada orang nyinyir. 

Ketika lebih suka di rumah bersama keluarga daripada nongkrong dan ngopi sampai tengah malam dengan kawan-kawan seperti dulu.

Ketika lebih sedih ditanya seberapa banyak hafalan daripada seberapa banyak uang yang kamu punya.

Ketika lebih memilih Zumba biar sehat daripada joget jejingkrakan nonton konser atau di tempat hiburan biar eksis dan ngga stress.

Ketika lebih mikirin masak apa yang sehat buat suami daripada makan di luar biar ga kuper.

Ketika harus mengerem ego agar suasana tetap damai daripada berdebat untuk pengakuan. 

Ketika mikirin saldo rekening daripada " Ya udah lah nanti juga dikasi lagi sama papa. "
Ketika udah harus settle dan ga bisa banyak trial and error lagi.

Ketika lebih suka social circle yang kecil tapi bermanfaat daripada big community yang wasting time

Ketika mendahulukan bener dan salah daripada suka dan nggak suka.

Ketika lebih fokus sama self-improvement daripada nyinyir dan nyempitin hati karena merasa ngga mau tersaingi sama orang lain.

Ketika apa yang kita sukai ditertawakan oleh anak-anak zaman now. 

Yup. Usia segini apapun nggak sama lagi. 

Cuma saya masih belum mengalami, berubah jadi mamak bawel yang kritis. Sekarang masih merasa bisa jadi ibu ibu yang tetep cool.

Entah ya nanti kalo udah punya anak. Heheu.

Mari mendewasa.

Jumat, 16 Februari 2018

Quit

Assalamualaikum. 

Selamat siang.

Sambil mikir mau masak apa, saya mau cerita sesuatu. 

Saya bergabung dalam satu project kerjaan. Kami punya grup WhatsApp sendiri, terpisah dengan para staff. Grupnya sudah agak sepi karena member memang lagi pada sibuk semua. Jadi nggak ada tuh rumpi seru kayak dulu. Tapi hubungan kami masih sangat baik dan beberapa kali bertanya kabar.

Suatu hari, seorang partner mengirimkan screenshot percakapan beliau dengan bos kami. Pak bos minta dimasukkan ke grup WhatsApp itu. Mungkin beliau beranggapan, di grup itu rame. Karena di grup gabungan dengan para staff itu juga geng kami nggak aktif dalam obrolan.

Saya minta pendapat teman-teman dulu. Yang balas hanya satu orang dan beliau berkata jangan. Karena memang di grup lain itu semua member project tergabung dengan lengkap. Saya mengabaikan permintaan pak bos lewat kawan saya itu, hingga keesokan harinya pak bos meminta langsung pada saya. 

Saya dilema, sih. Kata teman-teman jangan, tapi sisi lain, beliau atasan kami dan mungkin ingin menyampaikan sesuatu. Dengan asumsi, grup geng itu semua member aktif berbicara. Tidak seperti di grup seluruh staff project. 

Saya fikir pak bos butuh banget dan harus banget ngomong langsung ke kami, mungkin nggak ingin diketahui staff lain (saya belum tau beliau mau bilang apa). Lagian juga, sebelumnya beliau udah pernah minta hal yang sama dan setelah apa yang mau dikatakan itu sudah tercurah, beliau akan left. 

Dengan pemikiran simple begitu, saya memasukkan pak bos ke dalam grup WhatsApp geng kami. 

Tiba-tiba...

Salah satu sahabat saya men-chat di grup sebelah (grup khusus cewek. Banyak banget ya pecahan grup. Haha) dan (dari intonasinya) beliau marah. Nggak suka. Ada sedikit kecewa dari kalimatnya. Dan menyalahkan juga soalnya diksinya sarkas. Hehe. Ngga tau sih kalo texting kan ambigu, ya. Saya freezing beberapa detik dan kemudian baru sadar kalau itu salah. Saya beristighfar mengingat sahabat saya itu super baik dan nggak  mungkin berfikiran seperti itu kepada saya. 

Namun kemudian...

Sahabat saya yang satunya menimpali dengan kalimat yang mempertegas asumsi saya. 

" Kayak masukin orang lain ke kamar mertua. " 

Saya mengerutkan kening. Udah pengen nangis. Haha. Kemudian saya mengingat kembali, dulu pernah kok pak bos masuk grup geng. Dan nggak sebesar itu masalahnya.

Sialnya, saya udah keburu down duluan. Nggak ada rasa marah atau kesel. Serius, nggak ada. Cuma kecewa sama diri sendiri. Ngerasa nggak bisa bikin temen-temen saya nyaman. Nggak bisa menyamai pemikiran mereka yang jelas lebih bijak. 

Sahabat-sahabat saya pasti punya pemikiran sendiri kenapa memutuskan nggak mau menerima pak bos dalam obrolan. Mungkin ada yang saya nggak tahu. Saya malah mikir, ada clash atau apapun itu antara teman-teman dan pak bos, yang membuat teman-teman (berkesan) menjaga jarak. 

Saya fikir udah sampe situ aja. Ternyata besoknya masih ada yang bahas. Saya sudah minta maaf dan ada yang bilang nggak  apa-apa. Tapi masih dibahas. Oh. Oke. Ini kesalahan yang nggak sederhana, fikir saya.

Saya nggak enak. Kemudian saya left dari grup cewek dan grup geng itu...

Rasanya nggak pantas deh saya yang berfikir sederhana dan naif ada bareng mereka. 

Terus yang bersangkutan japri, nanya kenapa saya left padahal dia udah bilang cuekin aja omongan sahabat saya itu. Dia tanya, "Ngerasa bersalah?" Saya jawab "Ngga." Karena memang da ngga ngerasa salah. Dia bilang cuekin aja omongan yang ga enak. 

Sedikit terhibur, tapi sahabat saya yang ini kemudian bilang, "Anggap aja (dengan kalimat itu) kita mukulin kamu karena masukin orang asing ke kamar."

Husnudzan saya luruh seketika. Kawan... Kalimatnya... =_=

Saya menghormati pak bos. Saya ngga ngerasa pak bos itu asing. Karena saya memang hanya aktif di project tersebut, sedangkan teman-teman saya yang lain aktifnya di banyaaaaak komunitas. Jadi mungkin bagi mereka, guru yang baik masih banyak di tempat lain.

Dalam pandangan saya, beliau salah satu orang dalam project yang banyak mengajari saya ini itu. Saya sangat bersyukur. Sekalipun kehadirannya dalam obrolan kami memang kurang bikin nyaman (da ngga bebas. Hehe.) Tapi saya ngga ngerasa punya hak untuk nolak kalo beliau pengen masuk grup, setelah ilmu dan pengalaman yang beliau berikan ke saya. Ngga ada alasan untuk antipati, terlepas dari ngga ada manusia yang sempurna.

Sayangnya, saya nggak punya kesempatan untuk menjelaskan ini ke teman-teman. Udah down duluan. Masukin orang asing ke kamar. Duh. Walaupun ngga selalu bermakna mau zina kan. Tapi tetep, asa hina banget aing. Hehe. Dan pak bos nggak left juga tuh. Oke. Saya salah mengira.

Tapi saya memang naif. 

Pola fikir dan IQ saya ngga sebaik teman-teman. Udah ah. Mundur saja. Kalau teman-teman memerlukan, insyaallah saya bantu. Tapi kalau diamanahi sesuatu, nggak deh. Nanti. Sayanya pinter dulu. Harusnya selalu menundukkan kepala.

Mohon maaf lahir batin, teman-teman. Terimakasih.

Minggu, 07 Januari 2018

2018

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Duh udah lewat seminggu di tahun 2018, ya. Selamat tahun baru, semuanya! 

Semoga tahun ini lebih baik lagi dari tahun kemarin, ya. 

Punya resolusi apa? 

Saya mah simpel aja.

1. Gunakan gawai seperlunya. Soalnya masih kebiasaan ya, gatel kalo ga pegang hape. Padahal ngga ada apa-apa juga. Terutama di rumah ni, jangan sampe quality time sama suami dan keluarga keganggu sama hasrat maenan hape. 

2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Ini pasti. Udah nikah jangan malah mlehoy. Disimpennya kok nomor dua wi, ibadah kan harusnya no 1? Iya, ini mah urgensi dalam penilaian saya, sih. Karena ibadah umumnya keganggu sama gawai juga. Doakan ya. 

3. Productive House wife. Aamiin...

4. Nulis! Wkwkwk disiplin nulis lagi walau ga ada yang apresiasi. Untuk menjaga kewarasan. Haha. Dapat tips dari Raditya Dika dan Kak Alodita, biasakan nulis minimal 15 menit sehari. Insyaallah.

5. Prestatif

6. Nonton minimal 1 video ceramah di YouTube.

7. Hidup lebih sehat. Sehat aja dulu. Badan bagus mah bonus. Kasian suami diejek mulu sama temen-temennya karena fisik saya (+_+)

8. Belajar masak

9. Self development lebih baik.

10. Lebih bermanfaat bagi orang lain

Itu aja sih. Ga indah. Haha. Biarlah. Uyuhan ini juga. Semoga yang kita semua harapkan bisa terwujud, yaaa!

3 bulan

Assalamualaikum. 

Selamat siang. 

Hari libur terakhir, nih. Sebagian besar mungkin udah masuk ya sejak tanggal 2 Januari atau 8 Januari ini. Suami saya besok baru masuk kerja. Saya sih udah resmi resign dari tempat kerja sejak tanggal 29 Desember 2017. Karena di tempat kerja nggak boleh pasutri kan ya dalam satu perusahaan. 

Banyak banget yang bertanya, mau bagaimana setelah resign? Apa nyari kerja lagi atau di rumah saja? Sejujurnya, saya belum punya rencana pasti. Biasa deh, ngga berani berencana panjang. Ga siap dengan hal yang buruk yang ngga sesuai rencana. Suami yang demokratis memberi saya kebebasan memilih, tapi bagi saya yang biasa disaklekin jadinya makin labil harus ngapain. Heheu.

Jika saya melamar kerjaan lagi, nanti keburu hamil dan takut jadi banyak izin seperti temen- temen yang hamil di tempat  kerja lama. Quality time dengan suami juga pasti minim banget. Tapi kalau menjalani di rumah gitu aja juga rasanya wasting time. Rencana lain, aktif di organisasi volunteer itu tapi biasanya yang dapat misi orangnya itu lagi itu lagi. Saya sadar kompetensi diri sih jadi ya gapapa. Cuma secara logika saya, saya akan jadi kurang produktif juga dan progress pengembangan diri juga ga bakal signifikan banget. Tapi tetep, ilmunya mah banyak. Semoga nanti dapat kesempatan lebih. 

Ah bingung. Haha.

Dear Myself, I forgive you :)