Assalamualaikum.
Subuh - subuh gak bisa tiduuuuurrrr >_<
Sejak pindah rumah udah mending banget, sih. Ini efek kopi jadi melek.
Yaudah, cerita makanan aja, ya. Review Bakso.
Akhir bulan lalu, saya dan suami nyamperin adik dan mama saya di Taman Balai Kota Bandung. Terus bingung mau ke mana lagi setelahnya. Adik saya lihat - lihat di aplikasi HPnya, tempat makan mana yang bisa dikunjungi. " Kak, lihat. Bakso Gunung Giri. Kata anak - anak Fitness sih enak. " tapi saya nggak begitu nanggapi. Cuma " Oh " aja.
Karena bingung, ya udah ambil motor dulu di parkiran. Adik saya parkir deket situ sedangkan suami markir di parkiran masjid Al - Ukhuwah. Kami ketemu di pintu parkiran. Masih bahas mau ke mana, karena mama, adik, dan suami pada bilang terserah saya. Bingung kan >_<
Saya memutuskan, ya udah, jalan aja dulu. Eh, ternyata, 50 meter dari pintu parkiran, di sebelah kiri ada Bakso Gunung Giri yang sebelumnya dibahas dede. Deket ternyata -_-
Tempatnya di ruko gitu. Di area situ ada kira - kira 3 ruko, tapi parkirannya penuh sama yang mau makan bakso. Parkiran motor ada di seberangnya.
Lokasinya Jl. Aceh 41 Babakan Ciamis, Bandung. Ternyata nama lengkapnya adalah Bakso Mantep Gunung Giri.
Penuh banget, padahal sudah sekitar jam 5 lebih. Banyak yang seneng sore - sore ngebakso, kayaknya. Entah apa karena bakso enak dimakan jam berapapun dan di cuaca apapun, ya. Karena nggak ada ruang di dalem, jadi kami berempat dan pembeli yang lain makan pakai kursi panjang di parkiran.
Nggak lama, pesanan datang. Ada tahu - nya, tapi saat itu habis. Kami yang baru pertama kali ke sana takjub sama 'bentukan' porsi baksonya. Banyak banget. Kuahnya keruh. Nggak jernih atau kadang ada minyaknya seperti bakso lain. Kayaknya pakai sumsum, fikir saya.
Aromanya menggoda banget, pas dicicip... Udah ga bisa bilang apa - apa lagi. Bakso terenak yang pernah saya makan! Semangat banget itu makannya :))
Gurih, enak, pas. Nggak mblenger.
Sayangnya, rasa berubah jadi biasa banget setelah ditambah sambal, saos, kecap. Enakan nggak pakai apapun.
Mereka di sana menyediakan kacang atom Garuda alias sukro sebagai pelengkap. Minumnya bisa dibeli macem - macem, karena nggak dikasih minum teh tawar atau air putih seperti warung bakso lainnnya.
Harga, kirain sampai 30ribu. Ternyata 22ribu aja. Worth it, lah untuk bakso seenak itu.
Jam 6 sore, udah beberes. Saya liat potongan tulang dengkul gede gede dari panci kuah, dibuang ke tempat sampah. Pantes kuahnya gurih dan keruh. Beneran ada sumsum-nya, nih. Gerobaknya dicuci bersih pakai sabun. Kayak orang nyuci motor. Jelas terjamin bersihnya kalau kayak gini.
Sampai hampir tutup, yang datang untuk makan masih banyak aja. Laris manis banget nih warung bakso.
Suami ketagihan banget dan minta datang lagi nanti.
Akhirnya, dua hari kemudian, kami ke sana lagi. Hehe...
Saya fikir, datang di jam makan siang bakal penuh banget. Nggak kebagian meja lagi. Ternyata nggak sepenuh waktu sore dua hari yang lalu ke sana. Kami kebagian makan di dalam, di meja panjang yang padat. Yup, ada 3 meja panjang dengan banyak kursi di situ. Makannya bareng sama pembeli yang lain, yang nggak kenal, jadi gak bisa barbar makannya. Hehe.
Kunjungan kedua, tahu masih ada. Kirain kayak batagor gitu, ternyata tahu goreng biasa aja. Kayak gini...
![]() |
| Geulis pisaaaan! |
Seperti yang temen - temen lihat, kita dapat potongan daging juga. Dagingnya bukan cuma daging kenyel - kenyel aja. Tapi juga daging beneran yang enak. Apalah itu namanya. LOL.
Baksonya gak keras gak kenyal. Perpaduannya pas banget deh pas digigit. Hati - hati aja suka berontak kalo dipotong sama sendok. Bisa tambah bihun, mie kuning, dan sayuran juga. Toge dan sawi.
Pokoknya ini recomended, deh. Buat yang abis main di Taman Balkot, kelaperan tapi bosan makan cuanki, melipir ke sini aja. Okeh?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar