Rabu, 20 Desember 2017

Unwell

Assalamualaikum. 

Selamat sore. 

Seharian ini Bandung mendung diiringi gerimis sesekali. Semoga nggak ganggu aktivitas temen - temen, yaa! 

Hari ini saya nggak enak badan. Aneh, sering sekali sakitnya. Sejak pulang dari Papandayan (cerita trip ini Insya Allah nyusul, yaa!), rasanya nggak enak badan terus. Badan kaku banget plus sakit kepala. Weekend lalu malah dibumbui drama masuk IGD karena nyeri perut bawah segala. Bikin suami, mertua, dan teteh ipar jadi panik. Masa sih jetlag? Masa sih masih capek? Asa udah ampir sebulan yang lalu deh campingnya. Tiga minggu tepatnya. 

Muka juga super kusam. Jerawatan lagi. Rambut jadi nggak jelas teksturnya. Kasihan sama suami, ngeliat yang ancur begini tiap hari. Kalau temen - temennya lihat pasti beliau kena ejek lagi, deh. Yah, becandaan aja tapi tetep ya ga etis rasanya. Banyak hal lucu yang nggak pantas jadi tertawaan. Salah satunya, fisik seseorang.

Jumat, 20 Oktober 2017

Sudah Menikah

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Udah hampir sebulan ya, saya nggak posting. Sebenarnya sih banyak banget yang mau saya ceritakan. Tapiiii menjalani peran baru sebagai seorang istri itu nggak mudah, ya. Yup. Hari ini saya genap dua minggu menjadi seorang istri. 

Kefikiran sih, bikin label baru yang isinya kehidupan saya sebagai seorang istri. Haha.

Tulisan ini saya ketik dengan rasa yang berbeda. Biasanya sendirian, sekarang ditemenin sama sosok laki - laki yang saya gelari 'suami'. Yang keukeuh pengen tau, pengen baca, pengen liat saya ngetik. Pan jadi ge er yahhh >_< Judul aneh itu juga atas ide beliau. Haha.

Saya dan suami masih sama - sama belum merasa sudah menikah. Masih merasa lajang saja. Karena proses kami yang memang nggak saya - kami - sangka akan membawa kami sampai ke titik ini. Banyak pihak yang kaget dan nggak nyangka juga, saya akan berjodoh dengan dia. Dia akan berjodoh dengan saya. Karena memang, walaupun kami bekerja di bawah label yang sama, bisa dikatakan kami ini nggak pernah berinteraksi dalam pekerjaan. Apalagi di luar pekerjaan. 

Saling nggak merhatikan, nggak pedulikan, hingga akhirnya tangan Allah bekerja.
Yang nggak bisa saya abaikan pula (karena jujur, ini juga jadi salah satu bagian seru), ketika banyak orang terkaget - kaget dan nggak nyangka akhirnya saya yang selama ini anti pernikahan bisa memutuskan untuk menikah juga dan tanpa kabar apapun tahu - tahu sebar undangan. Semacam menjilat ludah sendiri, sebenernya. Saya juga nggak ngerti kenapa bisa mantep nikah sama beliau. Saat itu nggak ada perasaan apapun. Cinta, sayang, gak ada. Yang ada hanya satu : YAKIN.

Mereka bertanya, gimana prosesnya kok bisa sampe nikah?

Saya selalu menjawab dengan jawaban berbeda - beda. Haha! Abis, bingung atuh, jawabnya gimana. Semua terjadi nggak disangka - sangka. Jadi nggak saya nikmati dan saya perhatikan tiap detil prosesnya. Pokoknya kurang lebih seperti itu :p

Mungkin awalnya ketika saya masih diklat Satguna. Sebelum itu, saya berfikir bahwa menikah hanya sebuah ikatan legal untuk saling menyakiti saja. Buat apa harus repot ngurus anak orang lain (pasangan) bila akhirnya akan disakiti? 

Ngga, bukan. Bukan saya pesimis. Tapi itu realita yang sering saya temui di sekitar saya. Banyak pasangan di sekitar saya yang disakitin pasangannya. Ada yang diselingkuhi, tidak dinafkahi, KDRT, tidak diakui, disia - siakan, dan sejenis itu. Coba, sebelah mana indahnya?

Saya tahu kok, pernikahan itu separuh agama. Mitsaqan ghalidza. Tapi proses saya belum sampai mengimani itu. Baru sebatas tahu saja. Bodo amat. Pokoknya nikah itu menyakitkan. Titik.

Segalanya betul - betul berubah, sejak saya sering menyimak teman - teman Satguna 7 diskusi soal menikah. Saya bertanya pada mereka, apa sih yang membuat mereka segitu pengennya nikah? 

Apakah saya mendapatkan jawaban yang membuat saya yakin?

Tidak. 

Mereka masih menjawab dengan jawaban subjektif. Saya sangsi, ah. 

Tapi ya, bagi Allah mah mudah banget membalik hati saya. Saya hanya berdoa, " Ya Allah, Gimana caranya bikin Allah sayang sama saya, dan saya sayang sama Allah, akan saya lakukan. Termasuk menikah. Uwi percaya sama pilihan Allah. Uwi nurut. Bismillah, sami'na wa atho' na."

Mungkin itu adalah doa pertama saya setelah sekian lama nggak mau bahas jodoh sama siapapun, termasuk sama Allah. Bertahun - tahun udah nggak mau doa soal jodoh. Tapi da hati mah Allah yang menggerakan, kan. Tiba - tiba aja pengen doa itu. 

Nikah memang menakutkan buat saya. Tapi lebih takut kalau nggak diakui Rasulullah di akhirat nanti. " Nikah adalah sunnahku. Barang siapa yang tidak mengikuti sunnahku, maka tidak termasuk dalam golonganku. " (Al - Hadits, mohon koreksi redaksinya). 

Saat itu, saya masih punya pacar. Yup, saya pacaran sama yg onoh selama setahun lebih. Itu sih tapi putus nyambung. Tapi sekarang dididik di Daarut Tauhiid, jadi udah nggak boleh sama lagi sikapnya terhadap sesuatu yang nggak jelas baik nggaknya. Jadilah saat itu, saya tegas sama dia. Eh, nggak dapat jawaban. 

Duh, gimana ya, kan nggak mau kalo ngga jelas. 

Menjawab kegalauan, Allah nunjukin cara unik lagi. Ditunjukkanlah mana yang terbaik. Alhamdulillah, walaupun sakit, kami berpisah. Saya memisahkan diri. Saya memutuskan bahwa saya sangat pantas dapat yang lebih baik dari dia. Bersama orang yang dengan bersamanya, surga terasa lebih dekat...

Ihiw.

Nggak ada air mata. Nggak ada kebencian sama dia. Yang ada benci sama diri sendiri. Kok bisa, dijanjiin komitmen serius, dan percaya. Ditinggal lama dan percaya lagi ketika dia kembali. Ish! 

Hanya hamdallah dan istighfar yang terus terucap. Bersyukur dijauhkan dan mohon ampun atas semua kekhilafan. Entah ya, itu momen - momen yang rasanya saya pure pasrah dan percaya sama Allah. Satu fase yang super susah saya rasakan. Cuma modal inget terus kata - kata ustadzah Siti Sumarni, " Belajar husnudzan, wi. Sama Allah, sama diri sendiri, sama orang - orang di sekitar. " Nuhun, Ustadzah...

Saya kembali pada kegalauan saya. Yup, selalu galau. Bukan karena jomblo, tapi karena makin nggak tahan sama omongan orang.

Yang nyindir, yang ngejek, duh. Bahkan yang sekedar kepo aja ngerubung ga jelas. Ternyata ngerubung teh hanya untuk kepo saja. Pas undangan disebar dan resepsi di helat, para kepoism nggak nyumbang dana tuh. #eh...

Udah ga tau lagi harus apa, saya menimbang-nimbang ikut biro jodoh saja. Tapi hati menolak. Jadi setengah-setengah. Sempat juga kefikiran, " Nyari yang mau nikah kontrak di mana, ya? " Atau juga " Misal ada penyuka jenis yang perlu nikah untuk nutupi statusnya juga gapapa deh. Saya mau. "

Bukan karena saya segitunya ngebet nikah, tapi karena rasanya ngga sanggup lagi ditanya terus kapan nikah? Undangan mana? Duh!

Semua terjadi di pekan pertama Ramadhan 2017. Secara ajaib, pekan kedua di bulan yang sama, seseorang yang baik datang. Seseorang yang sesungguhnya nggak meninggalkan kesan apapun sejak kami berkenalan (Kami berkenalan saat ada bahasan pendakian ke Semeru. Ya, kami sama - sama suka naik gunung, sih), namun tiba - tiba meninggalkan jejaknya ketika saya tahu bagaimana usahanya menghalalkan gadis yang dia idamkan. Sampai mengalami hal yang buruk seperti itu. Punten, saya nggak ceritakan di sini karena menghargai kisah beliau. Yang pasti, saya kagum. Tapi nggak saya ungkapkan sih. Didalem hati aja.

Kemudian beliau bilang, " Yang sedang saya perjuangkan itu teteh. Saya mau serius sama teteh.. " 

Saya nggak bisa bilang apa - apa. Cuma balas dengan emoticon nangis saja. Setelah khitbah dilakukan, saya baru tahu ternyata beliau sudah ngepoin instagram saya sejak sebelum berkenalan tapi belum lihat wujud saya seperti apa. Hanya berfikir kami akan cocok, karena menilai dari postingan - postingan saya di IG. Zaman itu saya masih nggak pede pajang foto sendiri. Kasian nanti yang lihat jadi mimpi buruk. Hehe.

" Kalau memang serius, akhir minggu depan saya minta aa datang ke rumah. Biar kenalan sama keluarga. "

Saya menguatkan hati. Kali ini sungguh membersihkan segala harapan sampai kosong sama sekali. Berusaha meluruskan harap. Bener - bener pasrah ke Allah. Kesungguhannya terbukti. Dia datang. Kami berbuka shaum bersama. Dengan mama dan papa. Tapi belum ada obrolan ke arah serius. Saya masih memerkenalkan beliau dengan sebutan 'teman'. Tapi tentu orangtua udah tahu maksud dari 'teman' itu.

Respon orangtua positif. Saya lanjutkan dengan istikharah sambil memperkenalkan diri lebih jauh. Termasuk menjelaskan fakta, bahwa saya ini anak aneh yang suka hal - hal mistis. Tapi ternyata beliau lebih aneh karena nggak ilfil pada keanehan saya itu. Lalu  tantangan saya lontarkan, " Kapan uwi bisa ke rumah aa? " 

Jadilah pekan terakhir Ramadhan saya berkunjung ke rumah beliau untuk pertama kali. Buka bersama keluarga beliau dengan perasaan nggak menentu. Aneh. Jika memang saya nggak berharap, semestinya nggak ada perasaan seperti itu. Ya sudah, berkunjung aja kan. 

Ternyata, respon keluarga beliau positif pula. Lega. Alhamdulillah. 

Tetap saja, ada minder yang luar biasa. Rasa takut nggak diterima, nggak bisa membahagiakan. Ketika selama ini yang ada hanya rasa takut nggak dibahagiakan, kali ini berbalik, gimana kalau saya nggak bisa membahagiakan beliau? Disinilah saya sadar, ego saya roboh. Nggak melulu mikir apa yang bisa saya dapatkan seperti sebelumnya. 

Ketika menyamakan persepsi, visi, misi, dan diskusi berbagai hal, rasanya makin cocok saja. Makin nyaman, hingga saat beliau ingin silaturahmi ke rumah di hari kedua Idul Fitri, saya mengiyakan.

Beliau melamar saya pada papa ketika saya ada di dapur. Jadi saya nggak tahu tepatnya apa yang beliau bilang. Tiba - tiba aja kedenger suara papa bilang, " Ya, Papa mah gimana anak - anak aja. Sok. Nggak minta apa - apa papa mah. Semampu aa aja. " 

Saya refleks nongol dari dapur. " Ngomongin apa sih? " 

Aa hanya menunduk sambil senyum, begitupun papa. Tapi senyum papa mah tengil. Mencurigakan. " Nggak apa - apa. " Kata Papa. Saya nggak percaya. 

Hingga akhirnya aa pulang, papa baru cerita di depan saya, mama, dede, dan kakak sepupu saya dari Tual. Kak Hasna. 

" Itu, minta izin mau serius. " 

Duh, entah kenapa kok rasanya pengen nangis, campur aduk. Antara takut cuma harapan kosong seperti sebelum - sebelumnya, takut iya serius tapi disuruh nunggu nabung dulu, takut ini... takut itu...

6 Juli 2017, beliau menjemput saya dari rumah Bu Oto. Saat itu sedang berlangsung acara siraman Mpit. Saya dijemput, dipertemukan lagi dengan Mama beliau lalu kami beli mahar nikah bersama-sama. 

Saya masih ga yakin beliau serius. Sejak itu, setiap weekend kami maksimalkan untuk persiapan pernikahan. Beli seserahan. Saya masih nggak cerita pada siapapun karena masih yakin akan ada apa apa yang menggagalkan di tengah proses. 

Sampai akhirnya seserahan selesai dibeli semua dan uang untuk resepsi diberikan mamanya pada mama saya.

Rasanya semua instan. Sekitar 2 atau 3 bulan saja. Tapi masih ada ketidakikhlasan ketika keluarga beliau menentukan bulan Desember untuk akad nikah. Malam itu, setelah udah lama nggak tahajjud, saya bangun dan refleks mengambil wudhu. Doa saya malam itu cuma satu, " Ya Allah, nikahnya Oktober aja. "

Hanya satu kali kalimat itu saya ucapkan, tanpa adab berdoa yang baik pula, tapi Allah menjawabnya. Cash.

Aa dapat rizki tak terduga. Ini beliau sampaikan ke saya pagi hari setelah semalam saya berdoa singkat itu.

Rencana akad nikah yang awalnya bulan Desember, dimajukan dua bulan. Oktober. Alhamdulillah. 

Disitu saya baru sadar, selama ini saya berdoa minta didatangkan pria yang serius sama saya. Padahal semestinya (mungkin akan lebih baik kalau saya minta) berdoa yang SIAP dan SERIUS. Nggak cuma (mengaku) serius saja. Kan jadi buang waktu dan energi bgt, ya.  Plus awal saya pengen nikah dulu ada temen liqo yg bilang, " Kalau ada yang maju, terima aja dulu
 Kalo bukan jodoh nanti Allah jauhkan kok. " Padahal nggak gitu loh semestinya. Saya nyesel nurutin nasihat itu.

Konflik jelang nikah mah ada aja ya, temen-temen. Luar biasa, deh. Mulai dari H-seminggu keluarga aa minta bajunya diganti, aula resepsi yang nggak bisa dipake padahal saat kabar ini disampaikan ke saya itu sudah hari Kamis dan kami akan resepsi hari Ahadnya.

Campur-campur, tapi Allah selalu menunjukkan cintaNya. Kemudahan demi kemudahan kami dapatkan. Acara lancar, nggak kekurangan satu apapun. Teman-teman dan keluarga datang. Huhu. Terharu. Ada yang jauh-jauh dari luar kota juga. Allah ngambil sesuatu untuk diganti dengan yang jauh lebih baik tuh bener banget kebuktian pas proses kemarin.

Hari itu rasanya nggak nyata. Kayak yang main - main aja. Nikah nikahan. Saya yang nggak pernah nyangka akan nikah, akhirnya menikah juga. Ketika saksi berkata, " Sah! " Saya hanya bisa mengucap satu kalimat, "Allahu akbar!" Setelah hamdallah, tentu. Nggak ada degdegan sebelumnya, sampai akhirnya saya melihat beliau dan rombongan datang. Lihatnya dari bagian bawah jendela kaca aja. Hehe. Trus mulai kesemutan sebadan-badan saat bapak penghulu datang. Dan semua terbayar saat beliau lancar mengikrar kabul dan saksi menyatakan " Sah ". 

Selama saya jadi anak papa, saya baru dua kali melihat papa menangis. Saat kakek meninggal dan di hari pernikahan saya. Suami saya cerita saat papa menjabat tangan aa, tangan papa bergetar hebat. Duh papa T_T 

Tugas papa dan mama selesai begitu saya menikah, tapi tugas saya nggak akan pernah selesai sampai kapanpun. Jadi nggak mungkin saya mengurangi bakti karena sudah nikah. Inshaa Allah.

Gitu ya, temen-temen. Apa yang sudah Allah takdirkan, nggak bisa kita buru-buruin dan nggak bisa kita tunda-tunda. Pertolongan Allah ga pernah tanggung-tanggung, saya dapat jodoh, dapat jalannya, bahkan dapat biayanya sekaligus. Mudah loh prosesnya. Nggak berbelit dan penuh drama.

Banyak orang bilang, " Ternyata jodohnya orang dekat. Kenapa ga dari dulu, ya?"

Ya, kalo kami bertemu dari dulu, belum tentu akan selancar ini. Bisa saja kami masih berego tinggi, idealis, belum siap budget, atau kendala lain.

Allah ngga pernah telat atau kecepetan mengabulkan doa. Tapi tepat pada waktunya. Pas. Presisi.

Kita hanya perlu sabar dan percaya.

Dan siapa sangka, saya mendapat suami yang selama ini saya fikir hanya ada di drama korea. Haha. 

Pihak yang terkaget - kaget bukan hanya satu atau dua loh, temen-temen. Mereka ikut bersuka cita. Ada aja yang julid, sih. Bilangnya, " Kok nikah sama ini? Kan sering cerita punya temen yang hebat dan keren. "

Sesungguhnya suamiku adalah pria terhebat dan terkeren dari semua yang pernah maju. 

#Haseum belagu pisan c uwi. Haha.

Sampai sekarang, kami masih adaptasi. Saya berusaha banget, bangun awal, masak sarapan ketika suami sedang mandi, baru bisa mandi setelah suami makan, dan ketika beliau berangkat kerja, saya baru bisa mandi, sarapan, dan siap-siap kerja. Soalnya beliau masuk jam 6 sedangkan saya jam 7.30 sih. Pulang kerja ga bisa leyeh-leyeh. Harus masak dan beres-beres. Mandi, shalat, makan, cuci pirjng dan beberes dapur. Habis isya sudah capek lalu pasti tidur awal. Alhamdulillah, suami saya mau repot-repot bantu kerjaan rumah dengan semangat dan wajah ceria. Huhu.

Perjalanan masih sangat panjang. Doakan saya dan suami agar rumah tangga kami barokah, ya. Aamiin...

Minggu, 17 September 2017

Kisah Nagato, Raisa, dan Sephia

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Bandung lagi gerah - gerahnya belakangan ini. Entah karena tempat tinggal baru kami yang belum cukup membuat kami betah atau apa. Tapi kata ibu owner Godiva Studio itu memang benar, Bandung lagi panas banget. Kebayang yang tinggal di Timur Tengah, gimana panasnya coba. Atau yang di Jakarta, deh. Banten. Cirebon. Nanash... :(

Nggak sanggup. Putri salju cem saya mah leleh. Heheu. *hoek

Bawaannya tuh pengen yang seger - seger. Liatin bang Joong Ki atau om Gong Yoo, misalnya.  Nggak, deh. Mie bakso dan jus buah, mantep ya. Tadi jajan baso malang yang lewat depan rumah terus bikin jus buah di rumah. Jus pisang stawberry. Duh, nikmat mana lagi yang kau dustakan? 

Oh, kali ini saya cuma mau cerita, ya. Postingan ini saya ketik dan posting ke blog atas izin dan keseluruhan tulisan udah atas persetujuan yang bersangkutan. Tentu dengan menjaga kerahasiaan identitas dari orang yang mengalami ini. Kesamaan nama dan kejadian di luar kuasa saya, ya. Da memang saya mah mau nyeritain kisah milik tiga nama di judul tulisan ini.

Tentang kisah tiga orang yang saya kenal. Kawan satu komunitas. Ketiganya saya kenal cukup baik. Bahkan saya jadikan figur contoh.

Begini ceritanya...

Sabtu, 16 September 2017

Less Productive, Quarter - Life Crisis Atau Sekedar Insecurities?

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Akhir - akhir ini rasanya nggak pengen ngapa - ngapain. Hampir tiap malam nangis terus. Hidup teh asa nggak berarti. Terus dan terus bertanya ke diri sendiri, apakah yang sekarang saya lakukan ini sudah benar? Jika ya, kenapa rasanya nggak nemu kepuasan dan kesuksesan? Jika tidak, lantas saya harus apa? 

Pengen banget mencurahkan yang seperti ini, tapi posting yang happy happy juga dianggapnya galau lah, curcol lah, dan gagal membuat orang lain merasakan happy-nya saya. 

Ketika saya posting sesuatu yang happy, orang akan chat ke saya, bilang kalo saya tukang maen. Tukang makan. Malah ada juga loh yang bilang kalau sebenernya saya lagi galau karena sepemahaman dia, ketika seseorang posting sesuatu yang happy, sebenernya orang tersebut sedang sedih. Tapi justru ketika saya posting yang beneran galau, nggak happy, mereka akan berkata saya galau terus. Nggak pernah happy. Malah menasihati panjang lebar untuk sesuatu yang nggak saya perlukan. 
Kalau udah gini, saya harus apa? 

Rabu, 30 Agustus 2017

Jerawat

Assalamualaikum. 

Selamat malam.

Malam ini saya tidur ditemani mama, karena dede ada acara outing sama sekolah tempat dia mengajar. Adik saya itu super deh. Jadwalnya padat banget. Semoga dede sehat terus ya, de! *kisskiss

Minusnya, rumah jadi sepi. Kayak malam ini. Sejak sebelum Ramadhan kemarin, jadwal dede makin padat. Udah nggak antar jemput saya lagi. Saat dia sampai rumah, saya yang udah nggak ada tenaga buat ngobrol. Kadang malah saya tidur sebelum dia pulang. Otomatis jadwal ngobrol kami jadi nggak ada sama sekali. Sekalinya ngobrol paling cuma yang ringan aja. Nggak cecurhatan bebaperan seperti biasa. Heheu...

Malem ini ngobrol yang ringan aja, ya. 

Jerawat. Ringan diomongin, berat diterima-in. Haha.

Saya yang nggak pernah jerawatan (kecuali saat mau haid), harus menerima kenyataan wajah saya jadi bengkak parah karena jerawat sejak sekitar 2 tahun yang lalu. Mungkin lebih. 

Eh pernah deh, sekali. Tapi nggak lama. Waktu saya kerja di salah satu pabrik farmasi di Lembang.

Rasanya berat banget. Bukan karena malu (saja), tapi karena sakitnya yang nggak tertahankan. Nyut - nyutan. Apalagi tumbuhnya nggak cuma satu atau dua. Bisa delapan sampai beberapa belas sekali muncul. Semuka - muka. Huhu...

Minggu, 20 Agustus 2017

Soal Baju

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Malam ini kok ya pengen ngobrol sesuatu yang lebih personal tapi mungkin temen - temen ngobrol lagi pada sibuk soalnya grup lagi sepi. Salah satu grup merespon dengan candaan, mungkin lagi ga pengen bahas yang baper. Heheu.

Terus, kenapa saya memutuskan nulis di blog? Karena blog bukan sesuatu yang terbuka seperti facebook, twitter, dan medsos lainnya. Orang berkunjung ke blog dengan maksud beneran niat baca. Niat pengen tahu. Apapun itu motifnya. Sekedar kepo, nyari gosip, atau cuma iseng aja karena lagi bosan. Medsos lain kan seolah - olah membuat orang lain mau nggak mau baca cerita kita dan itu menyebabkan reaksi yang lebih beragam. Lebih buruk lagi, jadi diketahui oleh mereka yang semestinya nggak tahu.

Saya bukanlah tipe verbal yang mudah mencurahkan apa yang difikirkan melalui lisan. Biasanya kalah cepat ngomongnya sama orang lain jadi nggak bisa leluasa cerita, salah ngomong yang menyebabkan salah faham, dipotong duluan atau tiba - tiba dialihkan obrolannya. Temen kantor ada tuh yang seperti itu. Lagi diajak ngobrol tahu - tahu jawabnya nggak nyambung karena dia tiba - tiba buka topik baru. He he...

Keterbatasan saya ini sebenarnya merupakan kelebihan, katanya. Karena orang yang belum kenal saya, sudah terlanjur menilai saya pendiam, kalem, dan lembut. Jadi pas ketauan orongoh - nya, rusak sudah pencitraan yang mereka buat sendiri. 

Sabtu, 19 Agustus 2017

Konsep Pernikahan

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Postingan kali ini, mari kita baper. Haha.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu sahabat saya, Siti, menawarkan paket jaipong untuk pernikahan.  Mapag Panganten, katanya. 

Saya menerawang, Siti memang orang yang detil. Untuk pernikahannya saja, persiapannya detil dan matang. Padahal hanya 5 bulan. Waktu yang menurut beberapa orang nggak cukup buat persiapan nikah. 

Saya baru sekitar 4 atau 5 tahun dekat dengan Siti. Kami satu sekolah saat SMP, tapi saya nggak mengenal dia dengan baik. Cuma sekedar tahu dia itu tetangganya teman sekelas saya. Sekarang malah lebih dekat dengan Siti daripada dengan teman sekelas saya itu. He he. 

Sakit

Assalamualaikum.

Selamat malam.

Malem ini masih shocked sih, karena kemarin parno sama hasil konsultasi ke temen - temen. Gejala kolesterol, katanya. Sejak selesai Satguna, yang mana itu sudah sekitar 4 bulan yang lalu, pola hidup balik nggak baik lagi. Gak olahraga, sering banget minum air es. Jadinya tengkuk dan leher sakit banget. Udah minum painkiller tapi nggak ngaruh. Banyak yang bilang kolesterol, diabetes, darah tinggi...

Saya berusaha nggak peduli tapi rasanya terlalu sakit (halah bahasanya!). 

Saran Bu Nasya (Apoteker kantor), minum Nutrive Benecol aja. Alhamdulillah lumayan bisa lihat ke langit - langit tanpa terlalu sakit. Biasanya jangankan lihat ke langit - langit, ngangkat kepala sadikit aja haduh...

Difikir - fikir horor sih, umur belum 30 tahun, belum nikah, belum punya anak udah kena kolesterol. Tapi diakui juga gaya hidup memang nggak sehat. Betul atau tidaknya saya kena kolesterol tinggi, Inshaa Allah kedepannya mau diperbaiki. 

Selasa, 15 Agustus 2017

Sorry Seems To Be The Hardest Word

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Kamis lalu, kami pindah ke tempat tinggal baru. Secara pandangan saya sebagai manusia, jujur, tempat baru ini nggak lebih baik dari tempat lama. Tapi kami bisa di sini, sehat, tidak kekurangan suatu apapun, berarti di mata Allah tempat ini lebih baik bagi kami. 

Yang bikin nggak nyaman adalah : tetangga saya jadi banyak dan lingkungan jadi ramai. Haha. Konyol, memang. Untuk seorang ISTJ, banyak orang bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi saya juga nggak mau kalau harus tinggal di tengah hutan lama - lama. Saya suka hutan, tapi kalau untuk tinggal di sana, hm... wanita manjah kayak saya belum bisa kayaknya :p

Kalau kata Mama, " Kita ngikut aja proses dari Allah. " 

Gitu.

Oke, I have something to share now. Sebelum idenya nguap, saya harus cepet - cepet ngetiknya. 

Gini loh...

Kamis, 03 Agustus 2017

Insecurity

Assalamualaikum.

Selamat malam. 

Akhir - akhir ini Dago dingin banget. Alhamdulillah, jadi ngerasa banget tinggal di Bandung. Sempat sih, panas. Sampai pas ganti baju, baru sadar kalau baju saya basah sama keringat. Tapi apapun cuacanya, saya selalu betah di Bandung. Walaupun hanya beraktivitas di daerah itu - itu saja, tapi rasanya berat kalau harus ninggalin Bandung. Bukan berarti nggak pengen sih. Cuma belum ada kesempatan dan izin saja.

Udara yang dingin, entah kenapa selalu identik dengan aktivitas kunyah mengunyah, ya? Adakah teman - teman yang seperti saya? Bawaannya laper mulu, pengen ngunyah mulu. Awalnya pengen yang manis. Udah abis, kok jadi pengen yang asin, ya? Udah yang asin, haus. Pengen minum yang dingin - dingin. Kok dingin, ya? Pengen yang anget - anget. Udah gitu, malah nambah laper. Ya udah deh makan makanan berat. Udah abis makan berat, pengen ngemil yang enteng - enteng. Sukro, keripik pisang, seblak kering, kastangel, kue salju, sari roti, indomie, baso cuanki, nasi padang...

Weekend lalu, saya ada agenda donor darah di pesantren. Tugas saya sebagai sekretaris. Tugas yang nggak semestinya saya sanggupi, karena ternyata kesalahan saya dalam tugas tersebut membuat semuanya chaos.

Di mata teman - teman,  acaranya masih sukses. Tapi bagi saya, saya hanya menyusahkan mereka. Terutama setelah teteh suster marah - marah ke saya karena form yang saya buat nggak sesuai maunya dia. Sedangkan saya membuatnya sesuai instruksi senior saya. Bersikap nggak ramah tapi pas depan teman - teman kembali ceria sambil gitu deh pokoknya. Hadeh. Maaf, teh. Saya mah nggak sesempurna teteh.

Banyak banget yang terjadi, teman - teman. Saya nggak tahu harus gimana. Paling sering sih saya merasakan nggak nyaman, nggak terima, nggak ikhlas, nggak mau dalam kondisi seperti itu, tapi di sanalah saya (harus) berada.

Jumat, 02 Juni 2017

Oh, Aa. Kenapa kau begitu?

Assalamualaikum.

Selamat siang. 

Bisa berada di rumah di hari Sabtu seperti ini rasanya sangat priceless. Biasanya ngider kalo Sabtu. Sejak kemarin siang, saya berkali - kali membuka agenda untuk memastikan apa hari ini benar - benar kosong? Semalam pun berusaha mengingat banget jadwal hari ini tapi da memang kosong. Aneh aja rasanya. He he.

Barusan diingatkan sama temen - temen Sat 7 untuk agenda tarawih keliling (tarling) perdana kami malam ini. Jadwalnya di masjid DT. Sore juga ternyata harus ke Lautze. Moci bilang, ada liputan dari TVRI, nanti sore. Inshaa Allah deh dipenuhi :)

Jadi, kirain pas bangun hari ini mau lupa sama kejadian semalam. Eh ternyata masih ingat aja. Gini ceritanya...

Ledakan

Assalamualaikum. 

Selamat jelang sahur. 

Malam ini saya nggak bisa tidur. Ngantuk sih, tapi... Masih ada yang memaksa otak saya berfikir. Tentang kejadian kemarin, yang sama sekali nggak pernah saya bayangkan akan saya alami. 

Kejadiannya sangat nggak menyenangkan. Jadi maaf ya, kalau postingan kali ini sungguh ngawur. Bikin galau. Bukan maksud pamer, tapi blog ini memang sengaja dibuat untuk menumpahkan pemikiran dan perasaan saya. 

Sejak dulu, saya sering berfikir. Kenapa sih di dunia ini harus ada orang galak? Yang nggak lembut. Yang pemarah. 

Kamu tahu kenapa?

Selasa, 23 Mei 2017

Hijrah : Anak DT, Murid Aa Gym

Assalamualaikum.
Selamat malam. 
Mata udah kriyep - kriyep, tapi rasanya kok masih pengen nulis sesuatu. Biar menjaga kewarasan dan kebersahajaan (naon atuh?).
Sejak awal tahun 2017, saya mulai membiasakan diri menuliskan prestasi apa saja yang sudah saya lakukan. Bukan, bukan yang berupa medali, piala, atau uang sebagai hasilnya. "Sekedar" apa - apa saja yang selama ini nggak bisa atau belum bisa saya lakukan. Entah karena kesempatan yang belum ada, kemageran yang merajalela, maupun alasan lainnya.
Semunya hal - hal simpel. Sesimpel saya bisa (punya niat) bikin kotak berpartisi buat nyimpen alat tulis kantor di laci meja kerja. Yang biasanya B banget alias berantakan dan apa adanya, jadi lebih terorganisir. Walaupun sekedar terbuat dari dus bekas oleh - oleh Tadashi Seto - san (Senior Manager di tempat kerja), tapi saat udah jadi, berbentuk dan berfungsi sesuai yang diharapkan, rasanya adalah... priceless. Puas banget. Kayak waktu liat mantan tikusruk, kamu tahu? 
Dan prestasi yang menurut saya tertinggi bulan ini adalah...

Sabtu, 06 Mei 2017

Mengejar S.T

Assalamualaikum. 

Selamat malam. 

Malam minggu, nih. Siapa yang nggak ke mana - mana setiap malam minggu? Cung! Tadi beli perdana internet buat reload modem aja Cigadung macet. Apalagi jalan besar, ya? Kebayang jalan Dago gimana padatnya. Anehnya, makin malam makin padat. Orang - orang pada ke mana atuh, ya? Yang kebayang teh mereka mahasiswa, para eksmud, atau keluarga yang jarang punya waktu santai. Mereka memanfaatkan waktu weekend buat kumpul sama temen - temen atau keluarga. Bisa juga sama pasangan. 

Sebagai orang yang kebanyakan santai, saya malu setiap mau ngedumel. Biarlah sesekali mereka santai. Karena saya bisa setiap hari menikmati jalanan Dago (yang nggak nikmat kalo lagi macet mah T^T). 

Jumat, 21 April 2017

Pernah bermula di sini...



“ Katanya, Al – Quran itu indah. apa sih isi Al – Quran itu? “

Pertanyaan itu menyeruak bersama ketakjubanku pada Alkitab yang selama ini kulahap.  Saat itu aku sudah membulatkan tekad untuk memeluk agama Katolik. Karena aku jatuh cinta pada ajarannya. Aku menyayangi pendeta dan guru yang biasa menjadi teman curhatku di sekolah. Aku menyayangi teman – teman yang tulus menerimaku di sekolah.

Aku nyaman dengan ajaran Nasrani. Meskipun aku terlahir sebagai muslimah dan dibesarkan dalam lingkungan muslim. Sayangnya, sampai usiaku menginjak digit belasan, aku belum menemukan ‘indahnya Islam itu sebelah mananya, ya?’. Karena di lingkunganku, ada perbedaan yang sangat kentara antara penganut ‘faham’ yang satu dan yang lainnya. Entah aku harus mendeskripsikan dengan apa, mungkin itu disebut mazhab. Satu sama lain saling menjatuhkan. Saling mengorek kesalahan dan kekurangan. Ah, ayolah. Beda organisasi aja diributin. Ribet!

Jumat, 14 April 2017

Gamang Pelantikan


Assalamualaikum.

Selamat pagi. 

Long weekend, nih. Jumat, hari ini, libur. Harusnya saya ikut pelantikan Satguna dari kemarin sampai Ahad depan. Tapi, semua ga bisa sesuai rencana...

Sedih, sih. Udah gitu diomelin sama Eyang. Tapi jadi PR banget buat saya. Harusnya saya lebih menjaga niat dan semangat saya. Nggak gampang luruh gara - gara inget pengalaman pahit di masa lalu.

Sebetulnya sudah sejak ada ribut - ribut penentuan tanggal pelantikan, saya gamang. Bisa nggak ya izin ga kerja dan ikut pelantikan?

Bukan belaga sibuk, tapi si sampo nggak bisa ditinggal dengan tenang. Saya berdoa agar Allah menjadikan saya orang yang sabar dan kemudian Allah memberikan saya project ini. 

Maafkan, sungguh maafkanlah kelemahan saya...

Minggu, 26 Maret 2017

Semua Serba Yang Pertama (2)

Assalamualaikum.

Selamat siang.

Inshaa Allah ini adalah lanjutan Chapter pertama.

Di sini saya mau cerita perjalanan kami di hari ke dua. 

Kami masak sarapan dan makan siang. Kemudian Kang Epi sama Abah Soma datang. Secara udah jam 07.15 dan kami belum kumpul deket masjid. Padahal jam kumpul pagi tuh jam 7, kata Kang Rusel. 

Sama Abah dikasih tahu banyak hal. Terutama soal cara bertahan dalam hutan. Seperti untuk menghindari kesasar, kita bikin bacokan kecil dan sedikit di batang pohon sebagai patokan. Yang ditandai adalah sisi yang bakal kelihatan saat kita turun. Juga dikasih tahu beberapa jenis tumbuhan liar yang bisa dijadikan makanan saat survival. Pengalaman memang parameter yang baik. Abah menguasai medan banget. Secara beliau sudah aktif di kerelawanan sejak sebelum tahun kelahiran saya.

Akhirnya kami sampai titik kumpul jam 07.40 dan harus kumpul lagi jam 08.30 setelah sarapan dan shalat dhuha.

Semua Serba Yang Pertama (1)

Assalamualaikum.

Selamat pagi. 

Hari ini saya libur kerjanya. Alhamdulillah. Karena jadwal libur tanggal merah yang semestinya besok jadi digeser hari ini. Biar bablas, katanya. Menyesuaikan dengan jadwal tim produksi juga di tempat kerja karena besok saya ada jadwal kerja bareng mereka. Doakan lancar, ya!

Hari ini saya terbangun dengan badan yang super pegal - pegal sehingga rasa syukur saya semakin bertambah atas liburnya hari ini. WooHoo!

Kemarin, saya menjalani serangkaian agenda yang betul - betul baru saya alami. Sampai nggak tahu harus ngomong apa, karena terlalu bingung ngebedain beneran kenyataan apa ngayal doang. Hihi. Karena bahkan saya nggak merasa saya sanggup dan sudah bisa melalui semua rangkaian acaranya. 

Jumat, 24 Februari 2017

Perdana

Assalamualaikum.

Selamat pagi. 

Inshaa Allah nanti sore adalah kelas pertama di semester ini. Sejak Senin udah mulai kuliah lagi dan rasanya lebih bersemangat dari semester - semester sebelumnya. Semoga lebih berkah dan bermanfaat, ya!

Niat awal, saya mau update cerita diklat saya di Satguna, tapi nggak terkondisi. Kadang baru ngetik beberapa baris, udah blank, udah capek, udah ngantuk, dan alasan lainnya :p

Emang sih, nggak semua hal berkesan bisa dan baik untuk diceritakan. Khusus diklat Satguna, mungkin sangking berkesannya jadi susah diungkapin pake kata - kata (alasan!).

Oke, kita mulai ceritanya...

Minggu, 29 Januari 2017

When The Stories Began

Assalamualaikum.

Selamat sore. Dari pagi hujan turun terus, nih. Bandung bener - bener berasa 'Bandung'. Bikin mager pula. Wkwkwkwk. 

Udah lama nggak posting padahal yang mau saya ceritakan ada banyak. Awal tahun baru disambut Ujian Akhir Semester, belum lagi project di lab belum selesai. Belum lagi galau karena putus harus menata hidup lagi. Belum lagi kecanduan game online. Hadeh. Lieur, nentuin mana yang harus duluan. Haha. 

Okeh, kali ini, sebagai pos pertama dari tahun 2017, saya mau cerita gebrakan yang pertama saya buat di 2017 ini, ya! 

As you know, saya adalah cewek yang banyak maunya. Ingin ini ingin itu banyak sekali. Tapi nggak semua bisa saya raih dan lakukan karena berbagai keterbatasan. Terutama izin orangtua. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang... (masih musim nggak sih kalimat begini? :)) )

Jumat, 06 Januari 2017

Cirebon Dadakan (4) : Keraton Kasepuhan

Assalamualaikum. 

Rantai terakhir dari trip Cirebon Agustusan lalu, nih.  Sok sokan nulis ala travel blogger, ternyata nggak mudah. Bener - bener nggak mudah. Kerasa banget kenapa kalo buka blog - blog favorit dan belum ada postingan baru tuh kecewa tapi mau gimana lagi da nggak gampang, ya. He he. 

Ini pertama kalinya saya ke area keraton seperti ini. Waktu ke Banten tahun lalu, sayangnya saya hanya lewat aja ke keraton Kaibon dan saat ke Banten lagi Awal Desember 2016 ini nggak dapat kesempatan ke sana T__T

Indah. Itu yang saya simpulkan. 

Kebayang deh gimana kehidupan sehari - hari dari para penghuni keraton ini zaman dulu. Pasti menyenangkan ya tinggal di sini ^_^

Dear Myself, I forgive you :)