“ Katanya, Al –
Quran itu indah. apa sih isi Al – Quran itu? “
Pertanyaan itu
menyeruak bersama ketakjubanku pada Alkitab yang selama ini kulahap. Saat itu aku sudah membulatkan tekad untuk memeluk
agama Katolik. Karena aku jatuh cinta pada ajarannya. Aku menyayangi pendeta
dan guru yang biasa menjadi teman curhatku di sekolah. Aku menyayangi teman –
teman yang tulus menerimaku di sekolah.
Aku nyaman
dengan ajaran Nasrani. Meskipun aku terlahir sebagai muslimah dan dibesarkan
dalam lingkungan muslim. Sayangnya, sampai usiaku menginjak digit belasan, aku
belum menemukan ‘indahnya Islam itu sebelah mananya, ya?’. Karena di
lingkunganku, ada perbedaan yang sangat kentara antara penganut ‘faham’ yang
satu dan yang lainnya. Entah aku harus mendeskripsikan dengan apa, mungkin itu
disebut mazhab. Satu sama lain saling menjatuhkan. Saling mengorek kesalahan dan kekurangan. Ah, ayolah. Beda organisasi aja diributin. Ribet!
Indahnya Islam
hanya sekedar basa basi saja buatku. Nonsense.
Bahkan ketika Papa memutuskan untuk menyekolahkan aku di sebuah sekolah
Kristen, tetangga – tetanggaku yang sudah mendalami Islam cukup lama langsung
meremehkan dan menyebutku ‘menggadaikan iman demi pendidikan’. Perih. Perih
sekali. Memang sih, mungkin mereka menilai begitu karena dengan bersekolah di
sana aku harus melepas jilbab yang baru 2 tahun kupakai.
Padahal selama satu semester, aku mengabaikan rasa malu untuk bolak balik ganti baju di ruangan pak satpam. Jadi gini, aku pakai kerudung dan serangam SMU panjang saat pergi dan pulang lalu ganti seragam betulan yang pendek di ruang satpam setiap datang dan mau pulang. Bapak - bapak satpam sudah tahu banget kebiasaan aku ini. Haha. Bahkan ternyata ibu kios di depan gerbang sekolah dan bapak - bapak tukang ojek di seberang sekolah sudah tahu kebiasaanku itu. Mereka bertanya - tanya kok ada anak pake jilbab masuk ke situ? Hehe...
Cuma pas masuk semester dua, semua personil satpam ganti. Aku lebay berfikir apa mereka dimarahi dan dipecat karena mengizinkan aku ganti baju di situ? Akupun berhenti ganti - ganti seragam padahal ternyata mereka diberhentikan bukan karena itu...
Tapi yang
membuatku tak habis fikir, kenapa mereka tidak berbaik sangka atau bertanya
dulu pada kami apa alasannya aku sekolah disana?
Aku sekolah di
sekolah Kristen hanya untuk mencari ilmu dan disiplinnya saja. Bukankah dalam
hadits disebutkan, ‘Tuntutlah ilmu sampai negeri Cina’?
Aku yang awam
ini mengartikan, tak apa kita belajar bahkan sampai ke negeri Cina yang komunis
sekalipun!
Sekolah di sana membuatku belajar banyak hal dan semuanya adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Semoga guru - guru dan staff di sana selalu sehat dan dalam perlindungan Tuhan. Jesus bless you all, bapak dan ibu :)
Simpatiku
terhadap Islam menurun drastis. Lingkunganku memang Islami, tapi aku tumbuh
menjadi anak yang bandel. Tak mau mengaji, apalagi shalat. Orangtuaku tak
kurang mendidikku. Mama menegurku terus menerus, mulai dari cara lembut sampai kasar. Tapi entah kenapa aku bebal. Entah apa yang menghalangiku dari ibadah – ibadah wajib itu.
Dan perlakuan
tetangga – tetangga saat itu membuatku makin antipati pada agamaku sendiri. Bahkan, saat itu aku nggak percaya kalau Allah itu ada.
Hari itu, Minggu. Aku berantem sama mama. Melawan beliau, seperti biasa. Aku menyakiti hati mama lagi. " Ngapain sih mama belain orang - orang yang sering nyakitin kita? " Teriakku saat itu. Dengan kesal, aku lari ke kamar. Menyetel radio keras - keras. Entah kenapa, saat itu yang pertama terdengar adalah lantunan adzan Dzuhur. Badanku langsung beku rasanya.
Biasanya, aku nggak suka dengar adzan. Berisik. Kalo ada adzan di radio, pasti langsung aku pindahin salurannya. Tapi yang ini beda banget. Aku ngelanjutin dengerin radio itu dan ternyata itu adalah radio MQFM dan yang adzan tadi adalah Aa Gym. Ulama yang selama ini kudengar dari orang sekitar merupakan ulama yang sesat karena mengajak umat berdoa sampai nangis - nangis. Belum lagi di DT banyak lagu nasyid. Selama ini aku tahunya nasyid itu haram karena kita berdoa dan memuji Allah dan NabiNya melalui lagu. Sama kayak ajaran agama Nasrani.
Tapi dari MQ - lah, saya semakin penasaran, islam itu seperti apa sih?
Berangkat dari
pertanyaan itu dan dari beberapa ceramah di radio, aku mulai membuka mushaf
– ku yang sudah usang.
Kubaca
terjemahnya perlahan. Ya, tentu hanya terjemahnya saja. Saat itu, meski usiaku
sudah 16, aku belum bisa membaca huruf hijaiyah. Hanya sedikit saja sisa
belajar di mesjid dekat rumah saat kecil dulu karena aku sering kabur kalau disuruh ngaji :p
6 bulan
mendalami agama Nasrani lewat kebaktian tiap hari Sabtu, renungan tiap pagi
sebelum kelas dimulai, dan diskusi dengan bapak pendeta yang dikenalkan temanku, guru – guru dan teman
– teman memang membuat hatiku tenteram sekali. Mereka nggak mengajakku mengikuti keyakinan mereka tapi aku sendiri yang ingin hidup damai seperti mereka. Dalam agama mereka nggak ada tuh saling ngatain karena beda gereja. Semua baik - baik aja, ibadah sama - sama. Orangtua dan keluarga tentu saja nggak tahu karena aku nggak pernah cerita apapun sama mereka. Aku bandel, tapi bukan berbuat onar. Melainkan nggak bisa di atur karena setiap apapun yang mereka bilang, aku nggak mau dengar dan lakukan.
Tapi kali itu, aku baru membaca
beberapa ayat dari surat Al – Baqarah, hatiku sudah meleleh. Ada getar halus
yang menelusup dalam hati dan membuatku lemas seketika.
“ Alkitab memang
indah. Tapi Al – Quran jauuuh lebih indah. “ Fikirku saat itu. Aku memeluk
Quran – ku sambil menangis. Tapi aku tak tahu, bagaimana aku harus
mempelajarinya? Membaca tiap hurufnya saja aku belum bisa. Aku memendam
keinginan ini beberapa lama. Seperti keinginan berpindah agama yang juga
kutunda. Aku ragu.
Hingga suatu
hari yang cerah, hari kedelapan di bulan Juni 2004, sahabatku berulang tahun
yang ke – 17. Dan tanpa fikir panjang, aku menjebol (lagi) celenganku untuk
membelikan sebuah Al – Quran untuknya. Ini yang kedua kali kujebol celengan
setelah aku melakukannya seminggu yang lalu untuk membeli benda yang sama. Dia
baru mulai berjilbab. Jadi kufikir, hadiah Quran pasti akan sangat Ia sukai.
Begitu Ia
membuka kado dariku, Ia memelukku sambil menangis haru dan menggumamkan
terimakasih. Dalam peluknya, aku berkata : “Ren, Aku mau belajar Islam”.
Tanpa kuduga,
tangisnya menderas.
“ Alhamdulillah,
Ya Allah. “ Pekiknya. Saat SMP aku memang cukup nakal. Tak heran dia bahagia
mendengar keinginanku ini. “Uwi, Reni baru gabung di Rohis sekolah. Kamu boleh
ikut “
“ Rohis itu apa?
“
“ Kerohanian
Islam “
“ Aku kan bukan
murid sekolahmu “
“ Gampang. Pakai
saja rok abu – abu. Kau takkan ketahuan. “
Bismillah, aku
ada di sana. Sebuah mesjid sederhana di salah satu SMK negeri. Mendengar
penuturan Akang dan Teteh pementor, bertemu dengan sahabat – sahabat yang
tulus, dan membantu kerja bakti di mesjid menjadi satu yang membuatku bahagia. Meski
mereka tahu aku tidak satu almamater dengan mereka, mereka tetap mendukungku
dan menyambutku dengan tulus. Sejak saat itu, setiap hari Sabtu, sepulang sekolah, aku langsung ke Solontongan berbekal semangat dan seragam SMU panjang karena seragam sekolahku nggak putih - abu dan pendek. Ikut duduk di masjid, menyimak kang Nyanjang bercerita.
Tak ada
diskriminasi. Mereka membantuku belajar shalat, menghafal huruf hijaiyah,
asmaul husna, dan hadits – hadits. Rapat, jadi panitia acara, hadir di majelis
– majelis, seolah menutup rasa antipatiku pada kaum Muslim. Aku nggak ngerasa orang lain di antara temen - temen. Mereka open banget. Terharu, duh.
Indahnya Islam
betul – betul terasa saat aku bersama mereka. Teman – teman Rohis.
Rohis menjadi
syariah Allah menurunkan hidayahNya, hingga keinginan berpindah agama pun
sirna. Rohis menjadi syariah Allah mengenalkanku pada siapa aku ini, untuk apa
aku hidup, dan kemana kita setelah mati nanti.
Dari Rohis aku
belajar pula berempati pada teman.
Dari Rohis aku
belajar pula bertutur kata lembut namun tegas dalam prinsip.
Dari Rohis aku
belajar pula berbakti pada orang – orang yang mencintaiku.
Dari Rohis pula
aku belajar berkasih sayang.
Jadi, tak hanya
ilmu Allah yang kudapat. Cara menjalani hidup dengan baik pun kudapat dan
kulatih dari sana.
Meskipun aku
bukan murid sekolah itu, aku merasa bahwa aku miliknya. Milik SMK Negeri 3
Bandung. Milik teman – teman. Milik ummat. Merasa sepenanggungan dan
solidaritas yang mendalam. Bahkan setelah lulus pun, beberapa guru di sana lebih mengenalku daripada Reni. Mereka menyapaku hangat, bukan Reni. Hihi. Reni sempat cemburu padaku, tapi hey, SMKN 3 itu milik kita semua. Ngga perlu lah cemburu begitu.
That was amazing
experiences. Alhamdulillah. Dari sanalah, semua petualangan hidupku bermula...
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar