Assalamualaikum.
Selamat sore.
Siang jelang sore, mestinya.
Rasanya kangen sama blog ini. Sejujurnya, lama saya mencari tempat lain untuk bercerita dan sempat lupa atas keberadaan blog ini. Hehe...
Kehidupan rumah tangga - sebagai istri dan ibu - nyatanya nggak mudah. Yup, saya udah 4 bulan ini jadi ibu dari seorang anak laki - laki tampan, loh! Bukan karena saya ibunya ya, tapi menatap Aka memang menenangkan. Rasanya macem liat kejernihan refleksi diri. Menatap kedua matanya yang seolah bertanya " Umma, ayo dong! ", membuat saya banyak berkontemplasi. Padahal entahlah dia mengajak untuk apa. Tapi yang hati saya terjemahkan adalah " Ayo menjadi pribadi yang lebih baik lagi. "
Ada rasa nggak siap sih, untuk punya anak. Tapi Allah menghendaki saya hamil. Jadi di hadapanNya w siap. Abba selalu memberi yang terbaik untuk saya, semaksimal mungkin yang beliau bisa. Maka saya pun nggak mau kalah. Saya ingin selalu mencurahkan sepenuh kemampuan untuk mengabdi dan menjadi makmum beliau. Hadirnya Aka adalah salah satu bukti cinta saya dan merupakan amanah yang sungguh sangat besar. Bismillah...
Hari ini saya nggak bahas itu terlalu dalam dulu. Insya Allah nanti akan ada tulisan tersendiri. Saya sangat ingin membagi proses saya membenahi diri setelah ada keinginan untuk sembuh itu muncul.
2008, saya baru tahu jika saya kena mental illness. Apa dan bagaimana, biar saya simpan untuk diri sendiri saja, ya! Karena bertahun - tahun saya menyembunyikan ini sendiri. Gaji habis untuk obat tapi hanya membaik sebentar - sebentar saja. Ikut program Trauma healing dan hipnoterapi juga sudah, tapi masih begitu - begitu saja.
Beberapa hari yang lalu, saat saya shalat Maghrib, rasanya seperti ada bisikan dalam hati (Cie...) yang mengingatkan saya bahwa sudah 12 tahun loh saya seperti ini. Walaupun perubahannya sudah signifikan banget, tapi masih kambuhan. Saya juga kadang nggak ada kemauan kuat untuk sembuh. Padahal sejak sebelum menikah, dokter spesialis udah nggak bisa kasih obat. Mau gak mau, saya harus memaksakan diri untuk sembuh.
2014 - 2017 saya menjadi seorang agnostik. Dari situ saya dapat sangat banyak pembelajaran yang akhirnya saya simpulkan sebagai : Kalau nggak sama Allah, saya nggak bisa. Nggak sanggup. Nggak kuat. Sehingga, setakut apapun saya pada sosok wanita berjilbab syar'i, saya harus tetep deket sama Allah. Saya yakin dalam prosesnya akan banyak berinteraksi dengan orang - orang seperti itu tapi kini saya harus mulai meyakini bahwa itu adalah cara Allah memotivasi saya untuk survive.
Teringat lagi (duh teringat segala macem, deh!) kata - kata Pak Ustadz Darlis Fajar kala itu.
" Setiap kita terbayang wajah orang dan peristiwa yang sangat melukai kita karena dia, ucapkan kalimat ini : Ya Allah, saya memaafkan dia."
Nggak mudah. Sungguh. Tapi seenggaknya saya udah nggak nangis jejeritan saat mengingat itu semua. Satu persatu puzzle tersusun dan saya nggak kuat menanggungnya sendiri. Lalu malam itu setelah menidurkan Aka, saya mendatangi suami. Beliau sudah tahu perjalanan saya, tapi saya ingin sekali bercerita lagi. Alhamdulillah beliau selalu penuh support. Beliau mendengarkan dengan seksama, hingga nggak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 00.30. He he...
Lega, sungguh lega. Itulah kenapa memiliki pasangan yang enak di ajak ngobrol dan diskusi adalah keharusan bagi saya. Dari situ kelak menjadi peredam bagi saya kalau Abba lagi nyebelin. Hahaha! Padahal nggak pernah nyebelin sih, kecuali kalau usilnya lagi kumat.
Saya setuju, ketika kita merasa hidup kita berantakan, shalat - lah yang pertama kali harus kita perbaiki. Tapi karena saya sempat nggak memercayai agama yang saya anut sejak lahir ini, masih sulit rasanya untuk sepenuhnya menghadapkan hati pada Allah. Maka sebelum memerbaiki shalat, sesuai urutan rukun Islam, langkah pertama saya adalah memerbaiki syahadat.
Masih sulit. Sungguh. Tapi melihat suami yang tekun beribadah membuat saya malu. Saya sangaaaat bersyukur punya suami yang menjaga amaliyah hariannya. Beliau nggak ngajak saya karena beliau bukan tipe suami yang mendidik dengan perintah. Melainkan dengan contoh. Sehingga saya harus amat sangat jeli mengamati perilaku beliau. Walaupun masih banyak absurd-nya. Hehe.
Karena sangat sulit, saya dari apa sih yang bikin sulit? Saat kita udah berbuat sangaat baik pada seseorang tapi dia masih nggak baik pada kita, apa yang salah? Saya menjawab " Pribadinya yang memang seperti itu. " Setelahnya ternyala lebih sulit. Saya harus memaafkan diri sendiri, menerima masa lalu, bersyukur atas apa yang ada, dan memaafkan apapun yang terjadi beserta siapapun di dalamnya. Sulit, tapi bersama Allah kan nggak ada yang nggak bisa dilakukan, bukan?
" It may be hard, but it's worth it. " - Lalisa Manoban
Ada sosok yang harus kita cintai sebelum siapapun di dunia ini. Itu adalah diri kita sendiri. Tatap cermin dan katakan, " Kamu sudah melewati banyak hal sejauh ini, sebaik ini, seluarbiasa ini. Kamu sudah capek. Sudah berjuang. Berterimakasihlah pada dirimu sendiri. Katakan, kamu hebat. Kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa. Terimakasih, diriku! "
Setelah ini, berjanjilah pada dirimu sendiri untuk lebih bersabar, lebih telaten, lebih cukup istirahat, makan makanan yang baik, menjaga kesehatan, lebih tangguh, lebih dewasa dan bijak. Juga lebih pandai menerima hikmah dari setiap kejadian, lebih berserah pada Allah dan percaya sepenuhnya bahwa Ia hanya memberi dan menginginkan yang terbaik untuk kita semua.
Sisihkan rasa bersalahmu! Ikhlaskan apa yang tidak dan belum tercapai. Manusia bisa gagal, tapi tidak semua bisa menerima kegagalannya. Gagal sejatinya adalah tangga menuju perbaikan diri yang lebih tinggi.
Ketika mereka mengusik masa lalumu, berikan senyum terbaik. Mereka hanya mengatakan apa yang mereka tahu. Maka beritahu mereka bahwa dirimu kini sudah jauh lebih berbahagia. Lebih baik dan lebih bijak. Jangan terlalu larut dalam apa yang mereka katakan. Masa depan tidak akan menjadi lebih baik bila kita sendiri nggak berusaha mengubahnya.
Yang terpenting, semakin banyak yang menyayangimu, semakin banyak pula yang harus kamu bahagiakan. Bahagiakan dirimu sebelumnya. Ingat itu! :)
PR masih sangat banyak. Hidup sepenuhnya dalam aturan agama memang yang terbaik. Doakan saya agar bisa segera kembali nyaman hidup dalam aturan Islam. Sebab jika hati ngga menerima, bukankah sia - sia saja?
Setelah ini, berjanjilah pada dirimu sendiri untuk lebih bersabar, lebih telaten, lebih cukup istirahat, makan makanan yang baik, menjaga kesehatan, lebih tangguh, lebih dewasa dan bijak. Juga lebih pandai menerima hikmah dari setiap kejadian, lebih berserah pada Allah dan percaya sepenuhnya bahwa Ia hanya memberi dan menginginkan yang terbaik untuk kita semua.
Sisihkan rasa bersalahmu! Ikhlaskan apa yang tidak dan belum tercapai. Manusia bisa gagal, tapi tidak semua bisa menerima kegagalannya. Gagal sejatinya adalah tangga menuju perbaikan diri yang lebih tinggi.
Ketika mereka mengusik masa lalumu, berikan senyum terbaik. Mereka hanya mengatakan apa yang mereka tahu. Maka beritahu mereka bahwa dirimu kini sudah jauh lebih berbahagia. Lebih baik dan lebih bijak. Jangan terlalu larut dalam apa yang mereka katakan. Masa depan tidak akan menjadi lebih baik bila kita sendiri nggak berusaha mengubahnya.
Yang terpenting, semakin banyak yang menyayangimu, semakin banyak pula yang harus kamu bahagiakan. Bahagiakan dirimu sebelumnya. Ingat itu! :)
PR masih sangat banyak. Hidup sepenuhnya dalam aturan agama memang yang terbaik. Doakan saya agar bisa segera kembali nyaman hidup dalam aturan Islam. Sebab jika hati ngga menerima, bukankah sia - sia saja?
" Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. " - Ibnu Katsir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar