“ Katanya, Al –
Quran itu indah. apa sih isi Al – Quran itu? “
Pertanyaan itu
menyeruak bersama ketakjubanku pada Alkitab yang selama ini kulahap. Saat itu aku sudah membulatkan tekad untuk memeluk
agama Katolik. Karena aku jatuh cinta pada ajarannya. Aku menyayangi pendeta
dan guru yang biasa menjadi teman curhatku di sekolah. Aku menyayangi teman –
teman yang tulus menerimaku di sekolah.
Aku nyaman
dengan ajaran Nasrani. Meskipun aku terlahir sebagai muslimah dan dibesarkan
dalam lingkungan muslim. Sayangnya, sampai usiaku menginjak digit belasan, aku
belum menemukan ‘indahnya Islam itu sebelah mananya, ya?’. Karena di
lingkunganku, ada perbedaan yang sangat kentara antara penganut ‘faham’ yang
satu dan yang lainnya. Entah aku harus mendeskripsikan dengan apa, mungkin itu
disebut mazhab. Satu sama lain saling menjatuhkan. Saling mengorek kesalahan dan kekurangan. Ah, ayolah. Beda organisasi aja diributin. Ribet!