Assalamualaikum.
Selamat sore.
Apa banget deh nih judul.
Tahun 2018 udah mau abis lagi aja, nih. Pencapaian target - targetnya udah sampai mana?
Alhamdulillah, Allah ga pernah sedetikpun berjeda dalam ngasih rahmat dan nikmat yang luar biasa dalam menjalani hidup. Ada kesulitan, dibantu. Kita butuh apa, dikasih. Walaupun doa nggak dengan penuh keyakinan hati, walaupun hanya ucapan ringan aja nih, dikabulkan. Ga pernah nemu alasan buat ga bersyukur.
Sudah sebulan berlalu dari hari ulangtahun pernikahan kami yang pertama. Baru setahun. Masih jauh banget perjalanannya. Semoga, ya. Sehidup sesurga. Aamiin...
Setahun yang luar biasa ini diisi dengan begitu banyak kebahagiaan, nikmat, hadiah, kejutan, juga kelapangan. Ujian, ada. Tentu. Kalau nggak diuji, justru itu tanda tanya besar. Allah masih sayang sama kita atau nggak, begitu bukan?
Saya selalu ketakutan ketika menerima banyak nikmat. Selain syukur yang terucap, saya juga takut jangan - jangan itu bentuk istidraj Allah sama saya. Buru - buru deh fikirannya dijernihkan lagi, dibawa berbaik sangka lagi ke Allah, bahwa Allah memang sangat menyayangi saya. Kita. Kamu. Dia. Semuanya.
Fase setelah menikah, cukup membuat saya kaget karena merasa dihentak keluar dari zona nyaman. Yang biasanya tipe mau-beberes-syukur-ga-mau-ya-gapapa-kapan-kapan-aja, menjadi seorang istri yang menjamin seluruh rumah bersih. Yang mau makan tinggal makan karena dimasakin mama atau jajan di luar ketika mama ga masak, mau ga mau harus mulai bersahabat karib dengan panci, wajan, pisau, beceknya pasar tradisional, dan lainnya. Uang habis? Tinggal minta papa. Sekarang? Harus nahan diri buat ngafe dan touring demi jaga uang suami baik - baik.
Setelah 3 bulan pernikahan, titik balik selanjutnya harus saya terima. Menjadi ibu rumah tangga.
Nggak pernah kebayang sebelumnya, saya akan menjadi seorang full-timer ibu rumah tangga. Buat saya, bekerja adalah cara terbaik mengaktualisasikan diri. Biar ga diremehkan. Biar ga malu saat ketemu temen - temen dan saudara.
Saya yang awalnya keluar rumah jam 6 pagi dan masuk lagi paling lambat jam 8 malam itu harus 24/5 di dalam rumah. Ga gitu juga sih, sesekali masih diajak keluar sama suami, walau sekedar jajan malam atau keliling momotoran. Weekend adalah waktu terlama saya di luar rumah, itupun tidak untuk memanjakan diri atau quality time sama suami. Melainkan waktu untuk berkunjung ke orangtua dan mertua.
Makanya suka ambekan kalo weekend diem di rumah aja, tuh. Kan jenuh, ya. Heheu.
Waktu masih ngontrak sekamar di awal masa pernikahan, fluktuasi emosi tuh dinamis banget. Jenuh parah, yang diliat cuma TV. Benda yang super jarang saya sentuh dan tatap disaat masih melajang dulu.
Kuota internet unlimited yang suami belikan sangat membantu saya. Walaupun tetep ngerasa 'harga diri' berkurang karena nggak produktif. Suami yang sabar menghadapi saya yang galau terus menjadi motivasi bagi saya. Suami bisa sabar, kenapa saya tidak?
Saya mulai berdamai dengan fitrah saya sebagai perempuan, diam di dalam rumah dan tidak keluar rumah tanpa mahram. Suami nggak banyak melarang sih kalau saya mau pergi - pergi. Tapi sejak nikah, saya jadi manja juga. Kalau pergi sendiri atau naik gojek itu hampa karena ga ada suami. LOL.
Apa yang kemudian saya lakukan ?
1. Belajar memasak.
Saya dan suami seneng makan. Bedanya, saya seneng jajan, suami seneng masak. Melalui beliau, saya belajar mengolah bahan makanan dan beberapa resep baru. Termasuk dengan bantuan internet juga. Lihat banyak resep, blog walking ke blog - blog milik para food blogger, dan lainnya.
2. Merawat diri.
Luluran, maskeran, krimbat sendiri, blow atau nyatok rambut, dsb. Ya, setelah nikah kan merawat diri menjadi lebih wajib hukumnya. Karena suami yang lihat. Ga boleh kucel - kucel lagi walaupun sekarang juga belum cakepan dan masih kucel, sih.
3. Olahraga.
Merasa bersalah aja gitu kalau suami khawatir karena saya emang gampang sakit. Kalo bentuk badan jadi bagus mah itu bonus aja. Yang penting sehat. #gendutimut
4. Memulai bisnis online.
Yhaaaa! Seumur - umur ga berani mulai jualan, kali ini memberanikan diri jual macem - macem. Walaupun prosesnya sering nemu yang pahit, alhamdulillah, manis hasilnya. Meskipun masih harus sangat banyak belajar. Kalau buat jajan cilok mah udah ga harus minta suami. Ah, sombong! Haha...
5. Menata diri.
Waktu untuk menghafal Quran lebih banyak, waktu untuk ibadah lebih lapang, menambah berbagai pengetahuan dengan modal internet unlimited dari suami, bisa banget dilakukan. Sadar diri nggak punya bakat dan skill, jadinya coba belajar ini itu aja dulu. Kata suami, nanti akan ketemu kita klik - nya sama skill yang mana.
6. Menulis kembali.
Yang saya rasakan, ketika ga nulis itu rasanya uring - uringan. Jujur sama diri sendiri lewat apa yang ditulis, ga pake pencitraan, ga pake mikir imbalan apa yang akan didapat. Ketika kejujuran itu terlalu jujur, bukan berarti harus dibiarkan menuhin isi kepala. Tulis lalu simpan. Biar jadi memoar pribadi saja.
7. Banyak berkontemplasi.
Ini sih yang terpenting. Mengistighfari masa lalu, mensyukuri masa kini, dan mentawakkali masa depan. Nggak mudah berdamai dengan masa kini, jika masih dihantui oleh masa lalu. Penyesalan itu akan jadi baik selama kita bisa menyikapinya dengan baik pula. Jadi pemicu buat terus belajar dan berusaha memerbaiki diri, misalnya. Toh menyesal adalah salah satu syarat taubat kita diterima.
Ketika masih banyak orang menggunjingkan masa lalu kita, syukuri saja. Syukuri karena figur kita di masa lalu - secara langsung atau tidak - sudah menjadi pelajaran bagi mereka yang tahu bagaimana kita berproses. Oranglain tidak melihat dari keseluruhan sudut pandang dan bisa jadi kita juga seperti itu. Opini jelek tentang diri kita bisa menambah sudut pandang dan kebijaksanaan diri kita sendiri. Jadi, mari melapangkan hati dan menurunkan ego untuk menerima koreksi.
Bersyukur pula - lah karena mereka 'hanya' menggungjinkan masa lalu kita, karena mereka hanya tahu sebatas itu. Kesalahan dan keburukan kita, aib dan cela kita selepas sebenar - benarnya hijrah sudah Allah tutupi rapat - rapat dan tidak usah kita umbar lagi dengan menunjukkan sikap yang negatif.
Alhamdulillah, di rumah yang sekarang ada banyak space buat saya bergerak. Udah nggak dikit - dikit sakit badan (asli, duduk diem itu lebih capek kan daripada beraktivitas ini itu?).
Sekarang saya memasuki fase mengikhlaskan diri untuk 'hanya' berperan di balik layar. Memberikan suami dukungan penuh, mendoakan dengan tulus dan maksimal. Biar urusan rumah saya yang urus, sehingga suami bisa tenang menjalankan tugas - tugasnya yang lain. Ketika kompak sama suami tuh keajaiban banyak banget terjadi. Tapi ketika bandel, malah jadi ga menghasilkan apapun. Ga cuma ikhtiar saya saja yang macet, tapi ikhtiar suami juga. Asli, KERASA BANGET! Karena hakikatnya memang harus berbarengan. Berbarengan, tapi nggak harus selalu bersama. Menjalankan peran masing - masing untuk kepentingan bersama. Saling menguatkan dan mendoakan. Jangan sampai perjalanan orang yang kita sayang menjadi terhambat karena kita dan ego kita gak bisa dibawa 'jalan bareng'.
Ingat loh, ketika sudah menikah, bukan hanya keluarga besar dan sahabat - sahabat kita saja yang harus dibahagiakan. Tapi keluarga besar dan sahabat - sahabat suami kita juga...
Semangat ya, ibu - ibu !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar