Assalamualaikum.
Selamat sore.
Menjelang adzan Maghrib, nih. Sembari menunggu suami pulang, saya mau berbagi pengalaman yang bagi saya sangat campur aduk rasanya.
Pernikahan kami belum genap setahun. Sejak usia pernikahan 2 bulan, sebenarnya saya sudah sering banget menerima kalimat - kalimat yang membuat mood turun drastis. Pertanyaan klasik sepanjang sejarah umat manusia, terutama di Indonesia. Nggak tau sih apa di luar negeri 'umum' juga ditanya - tanya masalah seperti ini.
Pertanyaan itu adalah, " Sudah hamil belum? "
Nggak cuma satu pertanyaan itu (dan sejenisnya) saja, ternyata. Melainkan ada juga embel - embel selanjutnya. Misalnya, " Masa sih belum hamil juga? Dia nikahnya belakangan tapi sudah positif sekian minggu ", dan sejenisnya.
Cung, siapa yang sering ditanya hal seperti ini juga?
Ada yang beruntung dititipi amanah anak pada usia pernikahan seumur jagung, ada yang 'beruntung' dititipi walaupun nyatanya di luar ikatan pernikahan. Entah beruntung entah tidak, sih. Karena banyak diantara pelaku sex bebas dan korban perkosaan yang kemudian dititipi anugerah itu.
Ada pula yang sudah menanti bertahun lamanya tapi belum juga dititipi.
Semua pernikahan ada ujiannya masing - masing...
Sebelum menikah, saya dan suami sepakat untuk langsung program hamil. Tapi kemudian rasanya jadi nggak menikmati momen pengantin baru karena berhadapan dengan banyak pantangan dan keharusan. Jadi, saya 'nego' sama suami untuk ga program dulu. Nikmatin momen pengenalan dulu, karena dari kenal sampai hari pernikahan itu 5 bulan saja. Suami setuju.
Nggak disangka, teman - teman kantor bilang, " Wi, kamu gendutnya keliatan beda. Coba deh tes kehamilan. "
Malu sih pas pertama beli. Haha. Padahal kenapa malu toh statusnya udah istri sah. Degdegan saya celup stripnya ke urin. Gemetaran juga, duh gimana kalo hamil, fikir saya. Pengen mendaki dulu sama suami, pengen kerja lagi, pengen ini dulu itu dulu...
Dengan izin Allah, tespeknya garis dua. Samar yang satunya. Segera saya hubungi Mia, sahabat saya dan Teh Iki, Kakak sepupu yang seorang bidan. Keduanya bilang sama, positif. Di kamar mandi, ngga tau harus seneng apa nggak. Kok malah jadi galau banget. Masa sih usia 3 minggu pernikahan udah harus hamil? Nggak bersyukur banget, memang... Saya nggak kuat dan mengabari adik saya. Dia heboh banget, deh. Hihi. Tapi saya minta dia nggak ngasih tau mamah dulu.
Saya cerita ama suami. Beliau senang, tentu saja. Saya yang kurang bersemangat. Mikirnya belum siap. Akhirnya di pekan yang sama, setelah bagian bawah perut terasa sangat nyeri, Allah mentakdirkan saya haid kembali. Hamilnya nggak jadi... saya dan suami bisa melanjutkan rencana bulan madu liburan ke Gunung Papandayan.
Beberapa bulan dilalui, nggak kerasa pernikahan udah masuk usia 3 bulan. Saat itu nggak kuat perut tuh sakiiiiit banget. Sama Kakak ipar dianter ke Rumah Sakit Ibu dan Anak yang ada di daerah Astana Anyar.
Beberapa bulan dilalui, nggak kerasa pernikahan udah masuk usia 3 bulan. Saat itu nggak kuat perut tuh sakiiiiit banget. Sama Kakak ipar dianter ke Rumah Sakit Ibu dan Anak yang ada di daerah Astana Anyar.
Dengan penanganan 'seadanya' (asli, menurut saya sih nggak ramah dan nyaman), saya disuruh istirahat aja sama dokternya (kayaknya sih dia dokter. Gak ada tanda dokter/perawat). Dikasih obat.... asam mefenamat. Di lembar laporannya ditulis Dispepsia. Saya sih nggak ngerti apa kenapa ya dispepsia (maag) dikasihnya mefenamat. Ah udah deh ga jelas pokoknya. Untung murah banget. Bayar 1500 aja buat obat.
Bulan ke - 4 pernikahan, kami memutuskan untuk cek ulang, kenapa perut bawah tuh sakiiit banget. Atas rekomendasi seorang teman, akhirnya kami memutuskan ke Klinik Handayani, di Gunung Batu. Saya ditangani dr. Hazmi. Malu banget karena dokternya laki - laki. Risih mau nanya - nanya yang pribadi banget tuh. Setelah cerita, saya diminta cek pake tespek. Negatif. Kemudian USG. Ini yang bikin saya berdebar banget...
Saya tertawa melihat ekspresi suami yang melongo dan celingukan menatap kedua layar USG bergantian. Hihi. Entah seperti apa kalimat yang cocok digunakan untuk menggambarkan ekspresi beliau. Kami bahagia. Alhamdulillah, dari hasil USG, kelihatan rahim sudah sangat siap menerima janin sebagai tamu agung. Janinnya masih kecil banget, nggak keliatan jelas di layar. Kata dokternya, pemberian obat (saya lupa obatnya) selama seminggu, insya Allah akan membuat janin terbentuk dan makin jelas di layar. Saya dan suami keluar ruang praktek dengan gembira. Ga tau gimana jelasinnya deh.
Kami ngabarin orang tua, mertua dan ipar. Semuanya gembira. Tapi godaan itu datang... Gimana kalau saya nggak bisa jadi ibu yang baik? Kalau sekarang hamil, nanti nggak bisa ngelamar kerja dulu. Kalau sekarang hamil, bla bla bla...
Saat memfasilitatori suatu acara, saya sharing sama Teh Welly, senior yang saat itu sedang hamil besar. Kisahnya sama seperti saya, tapi beliau sudah tidak haid selama 2 bulan meski tespek masih negatif. Dikasih obat juga, akhirnya positif.
Seminggu setelah pemeriksaan pertama, saya dan suami kembali ke Klinik Handayani. Dengan dokter Wawang, waktu itu. USG selanjutnya, beliau menyatakan rahim saya kosong... Janin kecil minggu lalu nggak ada...
Ekspresi saya dan suami berubah. Kecewa banget rasanya.
Obat penguat kandungan untuk seminggu ke depan diberikan. Kalau nggak haid, saya harus kembali cek lagi ke sana. Malamnya saya tespek, ada dua garis, lagi - lagi samar. Masih ada harapan.
Entah apa yang merasuki saya, saat dimotivasi oleh Teh Welly, saya merasa siap dan akan sanggup. Tapi nyatanya, saya down duluan. Ba' da shalat isya saya bilang ke Allah, " Ya Allah, saya takut kecewa... Saya kayaknya nggak siap deh... "
Shalat isya jam 19.30, kemudian saya nggak bisa tidur. Fikiran kemana - mana disertai badan yang ngilu semua. Gelisah banget pokoknya. Sampai jam 01.30 pagi, saya ingin sekali ke toilet untuk buang air kecil. Lebih baik setelahnya shalat malam, fikir saya.
Dengan izin Allah, saat itu ternyata saya haid lagi. Refleks saya menangis. Dua hari setelah minum penguat kandungan dari dokter, janin 3 minggu saya gugur...
Saya bangunkan suami sambil menangis. Beliau memeluk saya sambil berkata, " Nggak apa - apa. Belum waktunya... "
Saat itu nggak merasa nggak apa - apa, sih. Rasanya patah hati banget. Bukan hanya karena kehilangan janin, tapi bingung gimana menghadapi keluarga besar nanti? Semua berharap saya segera ngasih mereka keturunan, tapi saya masih belum siap. Belum bisa. Belum diamanahi.
Bulan ke-8, promil dilakukan. Entah ya, rasanya malah seperti dirurusuh sama pihak sana sini. Tetangga juga. Padahal saya dan suami masih santai. Tapi rasanya seperti suatu kewajiban yang harus segera ditunaikan sebagai tanda bakti.
Sekarang, sudah hampir setahun. Saya dan suami nggak putus asa, sih. Cuma kalau menghadapi wajah - wajah kecewa ketika saya katakan " Saya haid ", rasanya saya nggak sanggup. Maaf ya, nggak pernah bisa bikin bangga...
Lebih malas lagi ketika menghadapi pernyataan :
" Ah kamu keduluan! Si A nikahnya belakangan tapi sekarang sudah hamil. "
" Si A baru sebulan nikah udah hamil, lho!"
" Kamu belum hamil juga? Ah, nggak bisaeun bikinnya! "
" Kamu mandul? Suruh suami nikah lagi, atuh. Kasian suami sebaik itu istrinya belum hamil juga. "
Dan sebagainya...
Ternyata suami saya juga mendapatkan verbal harrassement yang lebih parah. Di - bully - nya lebih dahsyat. Tapi ketenangan beliau membuat saya jauh lebih tenang.
Aneh ya, kenapa segitunya ngeledekin padahal biaya lahiran dst juga belum tentu mereka bakal bantu bayar, kan?
Sebenernya, kalau difikir-fikir, yang bikin pengen segera punya anak itu bukan saja memang diri yang mau. Tapi udah malas menghadapi 'dukungan' dari berbagai sisi. Saya kemudian menguatkan diri dengan, " Ah, bertahun - tahun jadi bahan gunjingan karena belum nikah juga kuat. Ini baru beberapa bulan. Belum seberapa. "
Masa penantian garis dua selanjutnya, saya memutuskan untuk enjoy. Menikmati momen - momen bonding dengan suami yang saya rasakan semakin berkualitas. Banyak hal positif lain yang bisa dilakukan selain menanggapi omongan sana sini yang memang nggak membantu. Ya, semoga memang menyebut kami dalam doanya, sih.
Yang super penting, tetap tawakkal dan yakin kalau Allah memberi rejeki anak di waktu yang tepat. Saat kami siap segalanya dan menjaga niat tetep lurus. Punya anak, karena memang sebentuk ibadah dan bentuk taat padaNya. Bukan karena untuk taat pada omongan orang.
Saya jadi semakin salut pada mereka yang menanti bertahun lamanya. Saya yang belum setahun aja udah panas kuping. Belum lagi hati yang merindu banget sama yang namanya anak bayi.
Mencintai seseorang yang belum ditemui, ternyata memang bisa terjadi. Setiap orangtua pasti mengalami. Dia belum ada, tapi sangat dirindukan. Dicintai. Disambut dengan sukacita yang besar.
Ketika dia belum ada, kita mendambanya. Ketika dia telah ada, kita mencintainya. Ketika dia lahir, kita rela mati untuknya.
Salah satu bentuk cinta ayah ibu sejak sebelum kamu ada adalah, kami memperbaiki diri menjadi orangtua yang layak dan baik bagimu.
Aamiin, Ya Allah...
Bulan ke - 4 pernikahan, kami memutuskan untuk cek ulang, kenapa perut bawah tuh sakiiit banget. Atas rekomendasi seorang teman, akhirnya kami memutuskan ke Klinik Handayani, di Gunung Batu. Saya ditangani dr. Hazmi. Malu banget karena dokternya laki - laki. Risih mau nanya - nanya yang pribadi banget tuh. Setelah cerita, saya diminta cek pake tespek. Negatif. Kemudian USG. Ini yang bikin saya berdebar banget...
Saya tertawa melihat ekspresi suami yang melongo dan celingukan menatap kedua layar USG bergantian. Hihi. Entah seperti apa kalimat yang cocok digunakan untuk menggambarkan ekspresi beliau. Kami bahagia. Alhamdulillah, dari hasil USG, kelihatan rahim sudah sangat siap menerima janin sebagai tamu agung. Janinnya masih kecil banget, nggak keliatan jelas di layar. Kata dokternya, pemberian obat (saya lupa obatnya) selama seminggu, insya Allah akan membuat janin terbentuk dan makin jelas di layar. Saya dan suami keluar ruang praktek dengan gembira. Ga tau gimana jelasinnya deh.
Kami ngabarin orang tua, mertua dan ipar. Semuanya gembira. Tapi godaan itu datang... Gimana kalau saya nggak bisa jadi ibu yang baik? Kalau sekarang hamil, nanti nggak bisa ngelamar kerja dulu. Kalau sekarang hamil, bla bla bla...
Saat memfasilitatori suatu acara, saya sharing sama Teh Welly, senior yang saat itu sedang hamil besar. Kisahnya sama seperti saya, tapi beliau sudah tidak haid selama 2 bulan meski tespek masih negatif. Dikasih obat juga, akhirnya positif.
Seminggu setelah pemeriksaan pertama, saya dan suami kembali ke Klinik Handayani. Dengan dokter Wawang, waktu itu. USG selanjutnya, beliau menyatakan rahim saya kosong... Janin kecil minggu lalu nggak ada...
Ekspresi saya dan suami berubah. Kecewa banget rasanya.
Obat penguat kandungan untuk seminggu ke depan diberikan. Kalau nggak haid, saya harus kembali cek lagi ke sana. Malamnya saya tespek, ada dua garis, lagi - lagi samar. Masih ada harapan.
Entah apa yang merasuki saya, saat dimotivasi oleh Teh Welly, saya merasa siap dan akan sanggup. Tapi nyatanya, saya down duluan. Ba' da shalat isya saya bilang ke Allah, " Ya Allah, saya takut kecewa... Saya kayaknya nggak siap deh... "
Shalat isya jam 19.30, kemudian saya nggak bisa tidur. Fikiran kemana - mana disertai badan yang ngilu semua. Gelisah banget pokoknya. Sampai jam 01.30 pagi, saya ingin sekali ke toilet untuk buang air kecil. Lebih baik setelahnya shalat malam, fikir saya.
Dengan izin Allah, saat itu ternyata saya haid lagi. Refleks saya menangis. Dua hari setelah minum penguat kandungan dari dokter, janin 3 minggu saya gugur...
Saya bangunkan suami sambil menangis. Beliau memeluk saya sambil berkata, " Nggak apa - apa. Belum waktunya... "
Saat itu nggak merasa nggak apa - apa, sih. Rasanya patah hati banget. Bukan hanya karena kehilangan janin, tapi bingung gimana menghadapi keluarga besar nanti? Semua berharap saya segera ngasih mereka keturunan, tapi saya masih belum siap. Belum bisa. Belum diamanahi.
Bulan ke-8, promil dilakukan. Entah ya, rasanya malah seperti dirurusuh sama pihak sana sini. Tetangga juga. Padahal saya dan suami masih santai. Tapi rasanya seperti suatu kewajiban yang harus segera ditunaikan sebagai tanda bakti.
Sekarang, sudah hampir setahun. Saya dan suami nggak putus asa, sih. Cuma kalau menghadapi wajah - wajah kecewa ketika saya katakan " Saya haid ", rasanya saya nggak sanggup. Maaf ya, nggak pernah bisa bikin bangga...
Lebih malas lagi ketika menghadapi pernyataan :
" Ah kamu keduluan! Si A nikahnya belakangan tapi sekarang sudah hamil. "
" Si A baru sebulan nikah udah hamil, lho!"
" Kamu belum hamil juga? Ah, nggak bisaeun bikinnya! "
" Kamu mandul? Suruh suami nikah lagi, atuh. Kasian suami sebaik itu istrinya belum hamil juga. "
Dan sebagainya...
Ternyata suami saya juga mendapatkan verbal harrassement yang lebih parah. Di - bully - nya lebih dahsyat. Tapi ketenangan beliau membuat saya jauh lebih tenang.
Aneh ya, kenapa segitunya ngeledekin padahal biaya lahiran dst juga belum tentu mereka bakal bantu bayar, kan?
Sebenernya, kalau difikir-fikir, yang bikin pengen segera punya anak itu bukan saja memang diri yang mau. Tapi udah malas menghadapi 'dukungan' dari berbagai sisi. Saya kemudian menguatkan diri dengan, " Ah, bertahun - tahun jadi bahan gunjingan karena belum nikah juga kuat. Ini baru beberapa bulan. Belum seberapa. "
Masa penantian garis dua selanjutnya, saya memutuskan untuk enjoy. Menikmati momen - momen bonding dengan suami yang saya rasakan semakin berkualitas. Banyak hal positif lain yang bisa dilakukan selain menanggapi omongan sana sini yang memang nggak membantu. Ya, semoga memang menyebut kami dalam doanya, sih.
Yang super penting, tetap tawakkal dan yakin kalau Allah memberi rejeki anak di waktu yang tepat. Saat kami siap segalanya dan menjaga niat tetep lurus. Punya anak, karena memang sebentuk ibadah dan bentuk taat padaNya. Bukan karena untuk taat pada omongan orang.
Saya jadi semakin salut pada mereka yang menanti bertahun lamanya. Saya yang belum setahun aja udah panas kuping. Belum lagi hati yang merindu banget sama yang namanya anak bayi.
Mencintai seseorang yang belum ditemui, ternyata memang bisa terjadi. Setiap orangtua pasti mengalami. Dia belum ada, tapi sangat dirindukan. Dicintai. Disambut dengan sukacita yang besar.
Ketika dia belum ada, kita mendambanya. Ketika dia telah ada, kita mencintainya. Ketika dia lahir, kita rela mati untuknya.
Salah satu bentuk cinta ayah ibu sejak sebelum kamu ada adalah, kami memperbaiki diri menjadi orangtua yang layak dan baik bagimu.
Aamiin, Ya Allah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar