Kamis, 30 Agustus 2018

Pindahan

Assalamualaikum. 

Selamat pagi.

Wah, udah lama nggak posting, nih. lagi riweuh banget. Riweuh ga jelas mau ngapain -,-

Jadi ya... Kalo ada yang nanya kabar saya gimana, alhamdulillah masih gini aja. Masih berusaha mengatasi insomnia. Ga ada yang berubah kecuali kadar kebahagiaan dan rasa syukur yang semakin bertambah. Aamiin... Alhamdulillah... Insya Allah...

Saya mau cerita sedikit nih, soal satu langkah (cukup) berani bagi saya dan suami. Nggak disangka banget bisa sampai di titik ini sebelum target. 

Begitulah Allah. Selalu Super baik, Maha Pengasih dan Pemurah walaupun kita sering lupa. Sering nggak mengikuti perintahNya, sering mendikte dan mendahului kehendak dan ridhaNya di atas apapun. 

Astaghfirullah... 
Sebelum menikah, saya dan suami membuat beberapa kesepakatan. Diantaranya adalah kesepakatan untuk segera 'hengkang' dari rumah. Memulai rumah tangga dari nol, berdua. Walau nyatanya nggak dari nol banget, sih. Banyak banget bantuan dari orangtua, keluarga, dan kawan - kawan terdekat kami. Alhamdulillah, kado dan hadiah dari para tamu saat resepsi pernikahan menjadi bekal yang cukup banget buat kami memulai rumah tangga.

Semingguan sebelum akad nikah, suami sudah dapat tempat untuk kami. Kontrakan sederhana tapi kami betah di sini. Nyaman. Tetangga juga nggak terlalu gimana gimana. Air gratis mengalir deras banget. Listrik hemat. Sewanya murah. Mau jajan atau perlu beli sesuatu nggak susah karena nggak jauh dari jalan utama. Kami tinggal di sini sejak hari ke-3 resmi jadi suami-istri, alias dua hari setelah menikah. Heheu. Berarti sampai akhir Agustus ini, alhamdulillah sudah 10 bulan. And still counting...

Ngeliat kamar kecil kami penuh kardus, jadi baper. Eh, habis maghrib kemarin, suami saya juga mengatakan hal yang sama. " Nanti kalau udah kosong, baper kali ya. Ngabisin masa awal nikah di sini. " :(

Hidup juga sama ya seperti itu juga. Kita punya momen tertentu, di mana mau nggak mau kita harus pindah ke sesuatu yang baru. Meninggalkan zona nyaman untuk bisa melangkah menjalani fase kehidupan yang lebih tinggi lagi. Ketika di kontrakan sini kami biasa bayar kamar dengan murah, air gratis, listrik hemat karena masih subsidi, di rumah baru nanti tentu semuanya akan berubah. Gaya hidup saya yang tukang jajan pasti harus diperbaiki. Rumah yang lebih besar juga akan membuat saya lebih lelah beres - beres. Lebih memberanikan diri ketika ditinggal suami kerja siang atau malam. Terdengar ribet, tapi tanggungjawab jadi istri lebih 'terlihat' dibandingkan current condition.

Kenapa harus susah meninggalkan apa yang sekarang sudah nyaman? 

Karena kalo nggak begitu, bisa jadi hidup kita juga begini begini saja. Sedangkan usia terus bertambah dan perubahan zaman begitu dinamis. Zona nyaman memang tempat singgah terbaik, tetapi dia bukanlah tempat untuk tinggal selamanya, bukan? 

Sebenarnya mengambil keputusan ini juga bukan hal yang mudah dipertanggungjawabkan kepada orangtua. Terutama pihak mertua. Mamah dan Bapak lebih suka saya dan suami saya tinggal bersama mereka. Biar kalau ada apa - apa mudah kan orangtua ada deket sama kita. Sempat terjadi perdebatan antara saya, suami, Mamah, dan Bapak. Tapi nggak rumit dan panjang sih, karena kemudian kedua mertua saya mendukung keputusan kami. Toh sejak sebelum kami berdua bertemu dan berkenalan, ternyata keputusan " Tinggal misah jauh dari orangtua setelah nikah " sudah kami ajukan pada orangtua masing-masing.

Kondisi berat badan saya dan suami yang sama - sama naik belasan kilogram padahal belum setahun nikah seolah jadi parameter tak terbantahkan dan bukti bahwa kami bisa menjaga diri walaupun jauh dari orangtua. Haha! 

Daaaaaaaan semogaaaaaaa di rumah baru nanti, Allah menyediakan ladang bagi saya mengatualisasikan diri. Bosan ya, di rumah terus tanpa hal yang produktif. Sejak bulan Maret 2018 deh, kalo ga salah, lebih sering cranky. Efek biasanya lebih dari 10 jam di luar rumah, sekarang bisa 24 jam di dalam ruangan yang sama. Jarang banget ke luar rumah karena memang saya menghindari kontak tidak perlu dengan tetangga. Alhamdulillah, suami sangat pengertian. Sehingga beliau selalu mengajak saya ke luar rumah. Sekedar ke ATM atau ke minimarket. Kadang perjalanannya agak jauh, ke Dago atau Kopo. Kadang juga sekedar jalan kaki ke seberang gang, beli nasi goreng. Hiburan banget sih ini. Hehe.


Minta doa yang terbaik dari kalian ya, teman - teman! Yuk, saling mendoakan :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dear Myself, I forgive you :)