Selamat malam.
Bingung mau kasih judul apa. Ini bukan tulisan bermaksud protes,
mengelak, pembenaran, ataupun balik memojokkan. Ini hanya refleksi dari
apa yang saya fikirkan. Karena jika harus mengutarakan langsung,
sungguh, saya tidak pandai berbicara. Khawatir nantinya jadi hal buruk
buat kita semua. Selama ini aku sudah cukup sabar, Mas. Tapi kamu nggak
juga ngertiin aku. Aku udah gak sanggup lagi nahan semuanya jadi aku
tulis di sini.
Sebenarnya saya selalu senang bila ada
yang mengingatkan. Meskipun masih belum siap kalau diingatkan dengan
kalimat dan atau yang kurang enak dan baik. Tapi, bagaimanapun, itu
tanda sayang buat saya, kan?
Anime.
Banyak yang menyamakannya dengan kartun. Padahal jelas berbeda.
Perbedaan antara Anime dan Kartun:
· Anime merupakan buatan Jepang. Sedangkan Kartun merupakan buatan barat atau Amerika, Eropa, dst.
· Dalam
hal genre, Anime dan Kartun sangat berbeda tentang ini. DiAnime
sendiri, genrenya terbentang mulai untuk anak kecil, kayak Doraemon,
sampai yang bisa dikategorikan dewasa seperti hentai kayak
diAnime High School DxD atau adegan yang penuh dengan kekerasan, seperti
Elfen Lied. Sedangkan Kartun kebanyakkan diperuntukkan bagi anak kecil.
Misalnya Iron man, tokoh utamanya anak kecilkan? Walau versi filmnya
diperuntukkan untuk dewasa.
· Dalam
hal Alur cerita, anime memiliki alur cerita yang kompleks dan cukup
rumit atau agak susah untuk dipahami. Sedangkan Kartun lebih sederhana,
tokoh utamanya tidak berpikir rumit. Misalnya Ben 10. Begitu ada musuh
ia langsung berubah sesuai dengan kebutuhannya. Ide ceritanya sederhana,
yaitu mengusir alien.
· Anime
banyak juga yang berbasis saintis, seperti dalam anime La Storia della
Arcana Famiglia. Sama halnya dengan kartun yang biasanya juga berbasis
saintis, kayak Spiderman, X-Man, dll. Ada penjelasan ilmiah untuk semua
itu, walaupun tidak semuanya seperti itu.
· Anime
dan Kartun lebih mendidik dari Sinetron Indonesia. DiKartun jarang
ditemui kisah perselingkuhan, percintaan remaja yang lebay, ataupun
perkelahian memperebutkan perempuan dengan keroyokkan, ataupun kebencian
karena cemburu, atau manusia yang berkelahi dengan naik naga, ceritanya
yang dipanjang-panjangkan kalau tokoh utamanya sudah tidak ada.
Sedangkan diAnime banyak diajarkan tentang kisah-kisah persahabatan,
kekeluargaan, dan kita menemukan banyak kata-kata bijak sebagai
motivasi.
· Anime
adalah animasi yang berkembang di Jepang dengan gaya gambar yang
realist tapi 2D dan berbeda dari manusia umumnya. Model utama anime
biasanya adalah manusia, dan jalur ceritanya tidak seperti kehidupan
sehari-hari yang biasa saja. Kebanyakan anime (tidak semuanya) dibuat di
Jepang dan alur ceritanya biasanya lebih serius dengan durasi satu
cerita, biasanya hanya satu musim (12-13 eps).
· Kartun
adalah animasi yang berkembang di Amerika yang bergaya gambar khayal
dan utamanya menggunakan karakter binatang yang dibuat menyerupai
manusia. Misalnya kayak Sweeper dan Boots di Dora the Explorer,
Scooby-Doo, Tom & Jerry, dll. Tujuan utama dibuatnya kartun biasanya
untuk menghibur dan ditunjukan untuk anak-anak, karena jalan ceritanya
yang santai dan menghibur, dan biasanya menceritakan tentang kejadian
sehari-hari karakter.
· Intinya,
anime itu BUKAN kartun. Kartun itu kebanyakan buat anak-anak dan bisa
juga ditonton buat orang dewasa. Tapi kalau anime itu sendiri belum
tentu semuanya bisa dinonton oleh anak-anak. Yah kembali lagi ke genre.
Karena di Anime, ada genre yang memang tidak diperuntukan bagi
anak-anak, kayak genre hentai dan ecchi.
Biar
gampang, saya copas penjelasan soal anime dan kartun ini dari sini. He
he. Keburu ngantuk, nanti tulisan ini nggak selesai kalo saya ketik
semua *ngeles*
Sebenernya
saya udah mulai lelah denger komentar orang - orang soal kecintaan saya
sama Naruto - Narutoan. Sebenernya ga segitu cintanya sih, karena
banyak juga cerita Naruto yang saya lupa atau skip. Nggak cuma Naruto
sih, ada lah beberapa yang saya ikutin meski nggak sampe tergila - gila
sama
Naruto. kenapa Naruto? Karena di Naruto ada tokoh sekeren Uchiha
Itachi. Hihi. Kalo soal Itachi, sepertinya saya udah termasuk Nijikon atau otaku
yang sudah nggak suka lagi sama manusia. Mereka lebih memilih karakter
anime, manga, atau game, dan tentu ada rasa seksual juga. Abisan kalo
lihat Itachi - kun itu suka ser ser gimanaaaa gitu. Ya mungkin
baru 1/2 Nijikon karena buktinya saya masih suka deg deg an super
dahsyat kalo disenyumin sama kamu *plak!*.
Okeh, balik lagi ke topik anime.
Sering banget deh denger komen,
" Udah usia segitu masih suka anime, ih. "
" Kayak anak kecil, ih. "
" Pakai jilbab tapi suka dateng ke acara cosplay yang buang waktu aja. "
Dan lainnya, deh.
Kawan,
Anime bukan buat anak kecil, kok. Dari definisi di atas pun sebenarnya
sudah bisa disimpulkan, kok. Mungkin orang yang berkomentar seperti itu
taunya anime itu hanya Doraemon atau Sinchan. Coba deh kapan - kapan
nonton Hi*hsc*o*l **D atau B**u *o *ic*. #eh... Jangan, deh. Parasyte
aja. Biar nilai sendiri apakah genre gore seperti itu pantas buat anak
kecil?
Saya udah males
njelasin, sebenernya. Makanya tiap ada yang mencibir cuma saya kasih
senyum aja. Kali aja nanti dia naksir saya *halah*.
Intinya,
apapun yang kita lakukan itu bergantung niat kan, ya? Saya ga berani
bilang " Ih, apaan nonton drama korea? Ngayal banget. Ga ada cecintaan
macam gitu. Mending nonton anime. Anime itu bla bla bla... " karena bagi
saya itu ya hak mereka yang emang suka. Mungkin mereka yang suka drama
korea, film india, atau film Hollywood karena mereka bisa
menangkap hikmah dari film - film favorit mereka tersebut. Yup,
mempelajari hal - hal yang nggak bisa saya tangkap maknanya dari film -
film tersebut.
"
Daripada kamu buang waktu nonton anime, mending ngaji! " makasih dah
ingetin tapi buat saya, ngaji bukan hal yang harus diketahui khalayak.
Ga mesti lah saya bilang, " Saya udah ngaji sebanyak x juz.
Alhamdulillah. Jadi bisa nonton anime. " Ah, asa teu kedah. Ya mungkin niatnya sekedar mengingatkan juga, ya ^^
Dewasa atau tidaknya seseorang memang tampak dari keseharian mereka. Tapi dalam frame saya, menjadi dewasa nggak berarti kita ga bisa lagi nikmatin hal - hal kecil yang unyu. Disuapin Mama, ndusel - ndusel di
ketek Papa, merajuk sama Abang, ngupil sembarangan (oke, ini jangan
diamalin!), joget - joget kalo lagi sendirian di kamar pake lagu -
lagunya AKB48, dan hal lainnya. Saya rasa seseorang bisa menjadi dewasa
dengan sisi kanak - kanaknya. Meskipun keduanya terdengar ironis, tapi
bisa kok berbarengan. Asal kita bisa nempatinnya aja. Gak mungkin kan
nangis gegara kejeduk pintu di depan calon mertua?
Ketika
seseorang yang kekanakkan menonton anime, ia hanya akan menonton dan
udah, gitu aja. Niru - niru apa yang dia liat, ciat ciat pasang jurus,
atau meniru adegan ecchi atau hentai yang dia tonton.
Tapi ketika seseorang yang dewasa menonton anime, dia akan faham makna
cerita yang dia tonton dan mengambil hikmah darinya. Ada gitu makna dan
hikmahnya? Ada, dong! Kalo ga nemu mungkin kamu masuk kategori pertama.
He he.
Pun ketika
seseorang nonton drama atau bahkan - maaf - film biru. Kan sinonimnya tu
'Film Dewasa', ya. Jelas genrenya. DEWASA. Tapi ketika orang yang
kekanakan menonton, mereka mungkin akan meniru adegan yang dilihat,
tanpa tanggung jawab. Tanpa fikir panjang. Akhirnya? Sex bebas. Dzalim
ke orang lain. Tapi ketika seorang yang memang dewasa menontonnya, ia
akan menganggapnya sekedar pengetahuan saja. Agar tidak berbuat lebih
jauh seperti halnya bermain basket, kita harus tahu aturan boleh dan
tidak bolehnya, kan? Biar kita nggak melanggar. Biar kita fikir panjang
kalo mau lakukan itu dan orang dewasa justru nggak bakal nonton film
dewasa sembarangan karena dia faham tanggung jawab yang harus ditanggung
setelahnya.
Dapet ya, maksudnya?
Ini
soal cara kita menyikapi dan soal selera aja, sih. Saya mah, gak
masalah kok temen - temen deket saya ga suka anime. Karena kita temenan
karena
diri kita. Bukan sekedar karena kesamaan hobi
dan selera. Oke, ada yang seleranya sama kayak saya. Tapi apakah saya
HANYA harus berteman dengan mereka? Ya enggak, lah. Toh saya tetep
bekerja di jam kerja, memaksimalkan family time, kopdar -
kopdar bareng kawan - kawan tersayang, belajar di jam belajar (mm...
yang ini sih gw sendiri ga yakin, sbenernya mah... tapi iya - in aja ya
biar cepet!). Intinya, tidak mengesampingkan kewajiban di atas
kesenangan.
Makasih
ya, udah mengingatkan. Saya jadi merasa diperhatikan. Jangan lupa
sayanya ditegur kalau khilaf, diingatkan kalau mulai lalai, dibangunkan
kalau mulai terlena, disemangati kalau mulai lemah, dibantu kalau mulai
tertatih, ditraktir kalau milad dan dikasih duit kalau lagi bokek.
Terimakasih. Selamat malam.
Assalamualaikum ^^
(Posted : 13 Juni 2015)
(Posted : 13 Juni 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar