Assalamualaikum.
Selamat malam.
Kau terlalu bersinar untukku. Tentu, karena kau adalah malaikat
dengan sayap putih membentang. Hingga aku tak sanggup berlama – lama
menikmati lembut tatapmu. Hanya mampu menatap sedetik, lalu kemudian
membuang pandangan. Aku tak bermaksud menyinggungmu, namun apa dayaku
bila akhirnya kau berfikir bahwa aku membencimu.
Kau
terlalu tinggi untukku. Tentu, karena kau adalah malaikat dari langit
lapis ketujuh sedangkan aku hanya sebatang kaktus yang hidup kesepian
ditanah tandus sini. Sulit rasanya bagiku naik kesisimu, dan aku yakin,
sulit pula bagimu menyadari keberadaanku.
Kau tak
mungkin kugapai. Tentu, karena dengan sayapmu itu, kau bisa terbang
kesana kemaridengan riangnya. Sedangkan aku hanya seekor ikan kecil yang
ditakdirkan menyelam sepanjang hidup. Aku ingin terbang bersamamu, namun
aku tak bisa meninggalkan takdirku.
Orang bilang, malaikatmu
itu hanya turun sekali. Entah kapan waktunya, tak ada yang tahu. Ia bisa
menjelma menjadi pangeran berkuda putih, sosok penuh wibawa dengan
kemeja rapi dan kacamatanya, pemuda urakan dengan banyak tato, atau
bahkan malaikat yang mencabut nyawamu kelak. Ya, untuk yang terakhir itu,
kurasa setiap orang pasti mengalaminya. Yang kumaksudkan adalah,
seseorang yang bersosok malaikat, namun sejatinya ia pencabut ruh –
mu. Ruh yang membuatmu ceria dan bersemangat menghadapi hari.
Aku
menantikan kehadiran malaikatku. Sejatinya aku tak tahu, apakah orang
yang membawa separuh sayapku itu akan datang kapan dan dalam wujud apa.
Atau mungkin dia sudah pernah datang?
Kau tahu, seseorang yang
berhasil meniupkan ruh kebangkitan padaku? Ruh yang sungguh memberiku
semangat dan membuatku sadar arti hidup. Menjadikanku seorang hamba yang
mengenal siapa Tuannya.
Malaikatku itu berusaha sabar padaku, namun apa yang kulakukan?
Aku
baru sadar bahwa dialah malaikatku, setelah ia melayang jauh dengan
kedua sayapnya yang terbentang luas. Mungkinkah aku menyusulnya kelangit
sana dengan sayapku yang hanya satu? Ya, ia belum menyelesaikan tugasnya.
Mengubahku menjadi malaikat pula. Karena malaikat hanya akan bersanding
dengan malaikat, bukan?
Aku heran. Mengapa bisikan iblis lebih
merdu daripada nyanyian malaikat hingga manusia lemah dan bodoh sepertiku
terbuai dan menafikan kehadiran sang malaikat.
Kebencianku bertunas.
Mengapa dia pergi begitu cepat? Mengapa ia tak bisa lebih
bersabar menanti sayapku lengkap dan kokoh? Aku membencinya. Sangat!
Apa kini aku telah berubah menjadi iblis?
Hm, mungkin.
Aku
merasa seperti iblis yang terjebak dalam raga malaikat. Hm, meski Cuma
malaikat setengah jadi. Aku senang melanggar aturan yang dulu diamanahkan
oleh malaikatku. Senang, tapi masih ada sesal dalam hatiku. Masih ada
rasa bersalah bila aku melakukan hal buruk. Mungkin aku belum berubah
menjadi iblis. Baru setengahnya saja, mungkin? Bahkan seperenambelasnya
saja aku tak mau.
Dan kini, malaikatku itu mungkin takkan
kembali. Namun aku menginginkannya. Tak ada cara lain, aku harus
mengokohkan sayap ini sendirian. Tanpa dia. Dan meski sayapku sudah
kokoh, kurasa ia takkan utuh. Mungkin hanya sebuah sayap mungil
yang mengepak pelan meski aku berusaha.
Kau tahu kenapa?
Karena malaikatku telah membawa pergi sayapku yang satunya…
Ia membawanya karena diriku tak kunjung mengubah diri agar sayapku lengkap dan mampu menghuni langit bersamanya.
Bila aku membesarkan hatiku, mungkin ia membawanya agar ia selalu mengingatku.
Kini,
aku sudah bisa untuk tak menyalahkannya namun masih harus sangat
berusaha tak menyalahkan diri sendiri. aku harus melengkapi sayapku.
Harus. Meski malaikatku tak kutemukan kembali, aku akan menemukan
malaikat yang lain.
Kuharap,malaikatku itu akan datang kembali. Entah dalam wujud apa, entah kapan, entah dimana.
Aku
percaya, ada yang bisa mengutuhkan separuh sayap ini. Entah itu
malaikat, seperti malaikatku yang dulu, ataupun sesama makhluk lemah
dengan satu sayap juga, hingga akhirnya kami saling melengkapi untuk
dapat terbang.
Suatu hari…
Maaf.
Penantianku sampai sini saja. 6 tahun, cukup? Aku tak bisa membiarkan
semuanya berlarut. Meskipun aku iblis, aku ingin menghabiskan waktuku
bertransformasi menjadi iblis baik. Apa? Oh, tidak ada ya? Baiklah.
Catat aku sebagai yang pertama.
Kosan, 14 Agustus 2014 (10:06 pm)
Suatu hari aku akan cukup baik :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar